“Souls” – mendengar nama franchise ini saja sudah cukup untuk
menggetarkan hati banyak gamer. Beberapa melihatnya sebagai seri game
yang akan menantang dedikasi dan skill Anda sebagai seorang gamer yang
sesungguhnya, namun tidak pula sedikit yang memandangnya sekedar sebagai
game yang sekedar menjual tingkat kesulitan tidak rasional sebagai daya
tarik utama. Apapun alasannya, sang developer – From Software harus
diakui berhasil menjadikan seri Souls – baik Demon Souls ataupun Dark
Souls sebagai salah satu game action RPG terbaik di pasaran saat ini.
Kekuatan utama di mekanik gameplay yang butuh perhitungan matang,
kesabaran, dan proses trial dan error yang intensif membuat setiap
keberhasilan, sekecil apapun di game ini, terasa seperti kemenangan
besar yang akan selalu mengundang senyum lebar. Dengan popularitas yang
begitu besar, tidak heran jika banyak yang menantikan sang proyek
suksesor – Bloodborne.
Dirilis eksklusif untuk Playstation 4, Bloodborne dari From Software
menjadi salah satu proyek yang begitu diantisipasi di tahun 2015.
Serangkaian trailer dan screenshot awal yang dirilis kian memperkuat
hype yang ada, memperlihatkan pengalaman menegangkan dan menakutkan
seperti apa yang bisa diantisipasi. Hasilnya? Impresi pertama yang ia
tawarkan memang begitu kuat. Ketagihan sejak jam pertama mencicipinya,
terlepas dari kematian bertubi-tubi yang harus dihadapi, Bloodborne
tampil begitu memesona. Visualiisasi ciamik dengan atmosfer Gothic
kentara, desain para musuh dan boss super keren, animasi gerakan yang
halus, serta pendekatan gaya gameplay yang berbeda daripada seri Souls
menyuntikkan sensasi yang unik. Cinta pada pandangan pertama, kami sudah
jatuh hati pada game ini sejak impresi pertama yang ada.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Bloodborne ini? Mengapa
kami menyebutnya sebagai penyiksaan yang begitu nikmat? Review ini akan
membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot
Jalinan cerita di Bloodborne sendiri tidak ditawarkan secara eksplisit.
Anda perlu mencari secuil informasi di sana-sini untuk mencari benang
merah yang ada.
Seperti yang mereka lakukan dengan Souls, pendekatan plot di
Bloodborne juga tidak disajikan secara eksplisit. Tidak pernah ada
benang merah jelas yang sebenarnya apa yang terjadi, terlepas dari
beberapa cut-scene yang memang ditawarkan terkadang sebelum atau setelah
Anda melawan Boss tertentu, atau ketika Anda baru memasuki area yang
asing. Namun semua percakapan dan cut-scene yang ada terlihat seperti
puzzle raksasa yang kehilangan bagian terpentingnya. Informasi-informasi
ekstra yang berlaku sebagai lem perekat untuk menemukan ceritanya
berasal dari kepingan yang bisa Anda temukan di sepanjang perjalanan.
Jujur saja, hingga akhir menyelesaikan permainan ini, kami bahkan tidak
tahu jelas apa yang sebenarnya tengah terjadi. Anda berperan sebagai seornag Hunter – yang menuju ke Yharnam untuk “Panacea”-nya yang terkenal. Namun alih-alih bertemu dengan apa yang Anda cari, Yharnam kini justru terlihat seperti mimpi buruk.
Yang pasti, Anda berperan sebagai seorang Hunter yang terjebak di
sebuah kota misterius bernama Yharnam. Kota dengan arsitektur megah dan
memukau ini dipercaya sebagai sebuah kota yang memiliki sebuah Panacea –
obat yang mampu menyembuhkan segala penyakit di muka bumi ini. Oleh
karena itu, tidak mengherankan jika ia menjadi sasaran para peziarah
yang berusaha mencarinya. Namun kali ini, Yharnam terlihat begitu
berbeda. Sebuah kejadian misterius membuat begitu banyak penghuninya
berubah menjadi makhluk menyeramkan yang membuat penduduk kota harus
mengunci di di dalam rumah. Langit berubah, bulan tidak lagi bersinar
terang seperti biasanya. Ia kini terlihat memerah. Penduduk berubah menjadi monster-monster menakutkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kutukan apa yang menyelimuti kota yang satu ini?
Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Siapa yang sebenarnya menjadi
dalang dari semua misteri ini? Mampukah Hunter Anda bertahan hidup dari
semua ancaman yang dilemparkan padanya? Semua jawaban dari misteri bisa
Anda temukan dengan memainkan Bloodborne ini.
sumber : jagatplay
Review Star Wars Battlefront: Konten Tak Sepadan Harga!
Akuisisi Disney atas Lucas Arts beberapa tahun yang lalu tak hanya
membuat para penikmat film, terutama penggila Star Wars mempertanyakan
masa depan film fenomenal yang satu ini. Namun ada sedikit gelombang
optimisme bahwa akuisisi ini akan berujung pada sesuatu yang positif,
apalagi mengingat apa yang berhasil dicapai Disney lewat franchise
superhero Marvel yang secara konsisten menghiasi layar lebar. Dan hal
ini terbukti lewat Star Wars Episode VII: The Force Awaken dengan hype
besar di tangan sutradara yang tampaknya tepat. Tapi akuisisi ini juga
punya pengaruh tersendiri di industri game. Disney langsung menyerahkan
hak pengembangan game eksklusif untuk EA selama 10 tahun ke depan,
memberikan publisher raksasa ini begitu banyak proyek potensial untuk
dikerjakan. Sebuah tantangan yang dijawab EA dengan seri terbaru Star
Wars Battlefront.
Anda yang sudah membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah
punya cukup sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan proyek yang satu
ini. Satu yang pasti, ia menawarkan salah satu kualitas visual terbaik
di tahun 2015 ini. Penyempurnaan engine Frostbite milik DICE terlihat
semakin matang, tak hanya lewat detail tekstur saja, tetapi juga
implementasi sistem tata cahaya dan atmosfer yang ditawarkan. Satu yang
pasti, Star Wars Battlefront sangat terasa seperti sebuah game Star Wars
yang seharusnya, terutama dari kemampuan DICE meracik tiap lokasi
pertempuran yang ada. Lebatnya hutan di Endor dan keringnya Tatooine
dipresentasikan dengan luar biasa, bahkan bisa dibilang – nyaris
sempurna. Namun tentu saja, video game tak pernah sekedar soal visual
dan presentasi semata. Karena pada akhirnya, semuanya mengarah pada
aspek yang seharusnya lebih penting, seperti gameplay dan konten.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Star Wars Battlefront
ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai proyek yang menawarkan konten tak
sepadan harga? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Tanpa Mode Campaign
Full multiplayer, Star Wars Battlefront hadir tanpa mode campaign.
Maka berbeda dengan review-review JagatPlay pada umumnya, kami tak
akan membicarakan aspek “plot” sama sekali untuk Star Wars Battlefront.
Bukan karena kami takut bahwa ia tak bisa terhindarkan dari spoiler dan
berakhir menghancurkan pengalaman bermain Anda, tetapi sesederhana
karena DICE sendiri memang tak menyertakan mode campaign sama sekali di
sini. Star Wars Battlefront adalah sebuah game yang memang didesain
untuk menjadikan multiplayer sebagai fokus utama.
Selain beragam mode multiplayer yang ada, memang ada beberapa misi
yang didesain untuk bisa dimainkan seorang diri. Ada mode Training,
Battle, dan Survival yang kesemuanya bisa dimainkan seorang diri melawan
AI yang ada. Ia juga bisa mencicipinya sebagai sebuah mode kooperatif
bersama dengan teman dalam list Friends Anda. Namun sayangnya, hanya
itulah peran mode “single player” ini. Tiap darinya tidak dibalut dengan
cerita sama sekali, hanya segilintir cut-scene untuk jadi pondasi dasar
apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Ia memang memuat beberap mode single player / multiplayer kooperatif, namun dengan pondasi cerita minim.
Dihiasi cut-scene pendek, mode survival akan langsung membawa Anda pada
pertempuran untuk mempertahankan hidup dari gelombang musuh.
Semakin kami mencicipi mode multiplayernya, semakin kami menyayangkan
game ini tak menawarkan mode campaign sama sekali yang seharusnya,
potensial.
Sesuatu yang sangat disayangkan, tentu saja. Mengapa? Karena seiring
dengan berjalannya waktu permainan kami di multiplayer, Star Wars
Battlefront benar-benar memperlihatkan potensi untuk tampil sebagai
sebuah game dengan mode campaign yang menawan, terlepas dari apakah Anda
berperan sebagai karakter ikonik dari franchise raksasanya atau sekedar
pasukan remeh temeh dari pihak Rebels ataupun Imperial. Kualitas visual
menawan, atmosfer yang tepat, desain dunia yang luar biasa, DICE
“hanya” perlu meracik sedikit garis cerita dan membalutnya dengan
dramatisasi di sana sini atau mungkin mengadaptasi secuil bagian dari
enam episode Star Wars untuk membuatnya tampil menawan. Sebuah nilai
jual ekstra yang cukup untuk membuat para penggemar jatuh hati atau
justru menarik para “pendatang baru” ke franchise ini. Sebuah kesempatan
yang sayangnya, terlewatkan begitu saja.
sumber : jagatplay
Review Fallout 4: Tak Sefantastis yang Dibayangkan!
Hype, kata yang satu ini tampaknya sudah cukup untuk menggambarkan
posisi Fallout 4 di mata gamer saat ini. Bagaimana tidak? Menjadi salah
satu game yang paling diminta dari Bethesda sejak eksistensi Skyrim yang
fenomenal, Fallout 4 akhirnya diperkenalkan kepada publik dengan cara
yang tidak biasa. Berbeda dengan proyek kebanyakan yang biasanya
diumumkan 1-2 tahun sebelum rilis untuk memancing lebih banyak
perhatian, Bethesda cukup optimis bahwa Fallout 4 hanya butuh waktu
beberapa bulan sebelum rilis. Optimisme yang terbayar manis. Hanya dalam
hitungan hari sejak rilis, ia memang menorehkan angka penjualan yang
luar biasa. Angka yang bahkan cukup untuk membuat pengunjung situs
dewasa menurun dengan jumlah yang cukup signifikan.
Fallout 4 memang hampir memenuhi semua harapan gamer. Sebuah dunia
post-apocalyptic yang tak hanya dilukiskan dengan atmosfer yang tepat,
namun dengan sistem pertempuran yang terasa jauh lebih dinamis. Anda
yang sudah membaca preview kami sebelumnya tentu sudah punya sedikit
gambaran apa yang ditawarkan Bethesda di game yang satu ini. Ada
beberapa kritik memang, termasuk dari visual yang tak sebanding dengan
game-game AAA kebanyakan saat ini, luas peta, hingga variasi misi
sampingan yang terkesan membosankan.
Bukan perkara mudah untuk “menjadi” Bethesda saat ini, karena
ekspektasi terhadap kualitas Fallout 4 memang berada di puncak
tertinggi. Banyak gamer, termasuk kami, yang mengharapkan sebuah
kuliatas yang fantastis, apalagi mengingat bahwa ia harus bersaing
dengan game RPG memesona sekelas The Witcher 3: Wild Hunt dan Pillars of
Eternity tahun ini.
Lantas, apa yang sebenarnya yang ditawarkan oleh Fallout 4? Mengapa
kami menyebutnya sebagai game yang tak sefantastis yang dibayangkan?
Plot
Walaupun didasarkan pada lokasi di dunia nyata, Fallout mengusung
timeline fiktif yang berbeda. Ditemukannya tenaga nuklir benar-benar
melambungkan teknologi yang dicapai manusia.
Sebelum kita mulai lebih jauh membahas Fallout 4, Anda yang belum
familiar dengan franchise ini harus mengerti bahwa terlepas dari dunia
yang kita bagi, Fallout 4 menawarkan “alternatif” cerita yang berbeda.
Setelah dunia menemukan tenaga nuklir, dunia “versi” Fallout 4
menggunakan sumber energi baru dengan sangat efektif, hingga mereka
mendapatkan lompatan teknologi yang begitu signifikan. Nuklir menjadi
sumber energi untuk banyak hal, bahkan menjadi pondasi untuk teknologi
sehari-hari. Namun sayangnya, efektivitas ini tak berbanding lurus
dengan sumber daya alam yang terus terkuras untuk menunjangnya.
Hasilnya? Perang besar untuk memperebutkan resource pun terjadi yang
juga sayangnya, berakhir nuklir. Tahun 2077, bumi tak lagi sama.
Kemajuan teknologi yang pesat membuat manusia memangsa sumber daya
begitu cepat. Dan ketika kian kritis? Seperti yang bisa diprediksi,
perang untuk memperebutkannya. Namun skala bahayanya begitu tinggi
mengingat senjata nuklir yang sudah pasti terlibat.
Anda berperan sebagai sebuah keluarga kecil yang diselamatkan Vault-Tec
dari perang nuklir dengan akses ke bunker bawah tanah berteknologi
tinggi – Vault 111.
Di bulan Oktober 2077, Anda adalah keluarga Amerika Serikat yang
bahagia dengan begitu banyak mimpi indah, apalagi dengan sang anak yang
kini melengkapi. Sayangnya, kebahagiaan ini tak berlangsung lama. Dengan
perang nuklir yang tak lagi terhindarkan, Anda terpilih oleh perusahaan
bernama Vault-Tec sebagai salah satu pengungsi yang berhak untuk
menempati Vault 111. Vault sendiri merupakan area dengan sistem
pertahanan tinggi yang diklaim memang didesain untuk menyelamatkan
sebanyak mungkin penduduk Amerika jika perang nuklir memang terjadi.
Bersama dengan keluarga Anda, Vault 111 jadi satu-satunya solusi untuk
terus bermimpi.
Namun sayangnya, alih-alih kehidupan yang baru, Vault-Tec justru
meminta semua penghuninya melewati proses tidur Cyrogenic yang panjang
tanpa ada penjelasan pasti. Anda sendiri ditidurkan berseberangan dengan
pod sang suami/istri bersama bayi Anda yang sangat kecil. Namun di
suatu ketika, Anda tiba-tiba terbangun tanpa pernah ada kejelasan apa
yang sebenarnya terjadi. Terkurung, Anda harus menyaksikan dua orang
asing yang entah datang dari mana membunuh pasangan Anda dan mengambil
bayi yang Anda kasihi. Sebelum Anda bisa mengambil tindakan apapun, pod
cyro ini kembali aktif dan Anda tertidur.
Dipaksa tidur Cyro, Anda tiba-tiba terbangun dan melihat dua orang
asing yang membunuh pasangan Anda dan mengambil anak Anda tercinta –
Shaun.
210 tahun setelah tertidur, Anda akhirnya terbangun dan siap merantau
di kerasnya dunia post-apocalyptic dengan satu misi utama –
menemukan anak Anda!
Mata Anda kembali terbuka kembali tanpa ada alasan yang pasti. Sang
pod tiba-tiba terbuka, Anda menjadi satu-satunya orang yang selamat dari
Vault 111. Tak ada yang tahu sudah berapa lama Anda tertidur, namun
satu yang pasti, ini bukan lagi dunia di tahun 2077 seperti yang Anda
kenal. Ini adalah Boston di tahun 2287, dan Anda resmi berusia 210
tahun. Terlepas dari semua makhluk aneh, radiasi, dan organisasi yang
harus Anda hadapi, fokus Anda hanya satu – menemukan bayi Shaun yang
sudah diambil paksa dari Anda. Tantangan seperti apa yang harus Anda hadapi?
Mampukah karakter Anda menemukan Shaun? Tantangan seperti apa saja
yang harus ia hadapi untuk mencapai misinya tersebut? Siapa pula yang
menculiknya dari Vault 111? Jawaban dari pertanyaan ini akan bisa Anda
dapatkan dengan memainkan Fallout 4 ini.
sumber : jagatplay
Bagaimana reaksi Anda jika seperti halnya seorang penjual obat
mujarab di tepi jalan, kami menawarkan kepada Anda sebuah game yang
tiada duanya. Tidak seperti game-game lain yang bergerak linear,
dangkal, dan menjadikan kekerasan sebagai solusi untuk hampir semua
masalah yang ada, game ini akan memberikan Anda sebuah pengalaman gaming
yang tiada duanya. Mengobati kerinduan sebuah generasi manusia yang tak
punya kesempatan untuk menjelajahi angkasa, sebuah game yang
memungkinkan Anda untuk menjelajahi luasnya semesta dan singgah di
setiap planet dari lebih 18 quintillion tentu jadi godaan yang tak bisa
ditolak. Apalagi sang developer di kala itu juga menyebut bahwa Anda
akan berbagi semua pencapaian Anda dengan semua gamer di seluruh dunia.
Dengan semua fakta ini, gamer mana yang tak akan tertarik dengan No
Man’s Sky.
Setelah mengalami beberapa kali proses penundaan dengan beragam
alasan, kesempatan untuk mencicipi No Man’s Sky secara langsung akhirnya
mengemuka minggu lalu. Game yang begitu dinantikan ini akhirnya bisa
kami cicipi langsung. Anda yang sempat membaca artikel preview kami sebelumnya,
tentu sudah punya sedikit gambaran soal apa yang ia tawarkan. Di satu
sisi, ia memang memperlihatkan sebuah pencapaian teknologi yang pantas
untuk diacungi jempol, terutama dari fakta bahwa Anda bisa masuk ke
dalam sebuah planet yang dibangun dengan skala besar, menembus atmosfer,
kembali ke angkasa, dan menjelajahi sistem bintang yang lain tanpa
waktu loading yang kentara sama sekali. Namun di sisi lain, kami juga
menyoroti bahwa gameplay yang ia tawarkan tak akan cocok untuk beberapa
jenis gamer, terutama untuk Anda yang mudah bosan.
Lantas, bagaimana dengan keseluruhan pengalaman yang ditawarkan oleh
No Man’s Sky itu sendiri? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game
yang menawarkan eksekusi tak sesuai ambisi? Review ini akan membahasnya
lebih dalam untuk Anda.
Plot
Sejak pertama kali diperkenalkan, misi utama di No Man’s Sky selalu tentang menuju pusat semesta.
Jadi, apakah No Man’s Sky punya plot? No Man’s Sky memang tidak
menawarkan sebuah garis cerita yang jelas dan definitif untuk Anda
ikuti. Tak seperti desain game pada umumnya yang biasanya membangun
narasi dengan memperkenalkan siapa sebenarnya Anda, mengapa peran Anda
begitu signifikan, apa misi utama Anda, dan ancaman terbesar seperti apa
yang harus Anda hadapi, No Man’s Sky dibangun tanpa itu semua. Sejak
awal permainan, Anda hanya diberikan sebuah pesawat dan beberapa misi
kecil yang mempersiapkan Anda untuk menjelajahi bintang. Walaupun
demikian, masih ada lore yang bisa Anda cerna dari beragam konten yang
ada.
Walaupun tak ada satu garis cerita yang pasti, No Man’s Sky masih
memiliki pondasi lore untuk hampir semua elemen yang akan Anda temui di
sepanjang perjalanan, dari ras alien, teknologi kuno, hingga beragam
benda misterius yang tak pernah Anda prediksi sebelumnya. Seperti yang
sempat disampaikan oleh Hello Games sejak awal, misi game ini adalah
meminta Anda untuk bergerak ke tengah semesta yang dipresentasikan
dengan sebuah bola cahaya raksasa nan terang di antara gugus bintang
yang ada. Anda bisa menggunakan cara Anda sendiri untuk menempuhnya atau
ikut satu dari tiga Path yang disediakan untuk metode yang lebih jelas. Anda tak akan menemukan penjelasan yang definitif soal siapa Anda dan apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa karakter atau objek yang Anda temukan tentu punya porsi cerita yang cukup signifikan. Beberapa di antaranya bahkan akan menentukan metode penyelesaian misi seperti apa yang akan Anda dapatkan.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di No Man’s Sky? Apa yang akan
Anda temukan di tengah semesta ini? Hal unik apa yang akan ditawarkan
oleh masing-masing jalur cerita yang ada, termasuk salah satunya yang
memuat soal Black Hole? Semua jawaban ini bisa Anda temukan dengan
memainkan No Man’s Sky itu sendiri. Satu yang pasti, ini bukanlah tipe
game konvensional yang bisa Anda “kejar” membabi buta dengan tujuan
hanya untuk menyelesaikannya. Daya tariknya justru mengakar dari
kenikmatan bermain pelan, dan menikmati planet atau galaksi seperti apa
yang Anda temui
sumber : jagatplay
Civilization V – Berbahaya! Dapat Menyebabkan Kecanduan!
Demonstrasi massa merupakan hal yang mulai terasa wajar di
Indonesia belakangan ini. Tentunya Anda mengetahui sebab utama pemusatan
massa besar-besaran semacam itu terjadi, bukan? Semua itu terjadi
karena mereka tidak puas dengan kinerja pemerintah dalam menjalankan
negara ini. Lalu, bagaimana jika Anda diberi kesempatan untuk menjadi
seorang pemimpin negara dan menjalankannya dari awal berdiri hingga
akhir masa? Apakah Anda akan menghasilkan negara yang lebih baik? Itulah
yang akan Anda temui dalam game ini!
Civilization V merupakan jajaran game terbaru dari seri game
Civilization yang telah malang melintang di dunia game semenjak tahun
1990. Seperti cuplikan yang telah kami berikan di atas, Anda akan
mengembangkan sebuah bangsa dari zaman purba hingga masa depan. Walaupun
terdengar sangat rumit, Anda sebenarnya tidak menjalankan berbagai
faktor kenegaraan yang rumit. Game ini secara garis besarnya hanya
meminta Anda untuk memutuskan beberapa hal yang membuat bangsa Anda
berjalan, seperti memutuskan teknologi yang akan diteliti, bangunan yang
akan didirikan di kota Anda, unit yang akan dilatih, diplomasi, dan
infrastruktur apa yang akan Anda bangun di sekitar kota Anda.
Kualitas tampilannya semakin halus dibanding seri game sebelumnya
Pilih sendiri bangsamu
Anda sudah bisa membayangkan seperti apa game ini berjalan? Tidak
serumit yang Anda kira, bukan? Nah, setelah ketakutan akan kerumitan
game ini tersingkir dari benak Anda, mari kita membicarakan mengenai
bagaimana game ini dimainkan. Mulanya, Anda harus memilih salah satu
dari 18 kebudayaan yang akan menjadi bangsa Anda. Kebudayaan yang
tersedia di sini adalah yang dapat digolongkan menonjol di dunia pada
zaman sebelum abad pertengahan. Sebagai contoh, Anda dapat menemukan
bangsa Amerika, Inggris, Rusia, Jerman, Cina, dan Jepang. Setiap bangsa
tersebut juga memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya menarik untuk
dimainkan.
Seperti apa keunikan bangsa yang dapat Anda mainkan? Baiklah, sebagai
contoh mari kita lihat bangsa Jepang. Bangsa ini memang sejak dahulu
kala terkenal dengan kemampuan ekspansinya yang tidak kenal lelah. Oleh
karena itu, bangsa Jepang memiliki militer yang kuat dan juga memiliki
unit khusus “Samurai” yang sangat kuat! Contoh lain yang dapat Anda
temukan adalah bangsa Inggris. Bangsa ini sangat baik dalam bidang
kelautan. Jadi, Anda akan mendapatkan teknologi awal yang berhubungan
dengan laut dan perahu Anda dapat berjalan lebih jauh daripada bangsa
lain. Semua keunikan tersebut membuat game ini memberikan pengalaman
yang berbeda di setiap bangsa yang dimainkan. Mengapa demikian? Karena
gaya bermain Anda akan ditentukan dari keunikan tersebut!
Setiap hex memiliki nilai sumber daya yang akan membantu perkembangan kota Anda
Review Hotline Miami 2 – Wrong Number: Brutal dan Menyenangkan!
Ada begitu banyak elemen yang menjadi standar bagi gamer untuk
menilai apakah sebuah game memang pantas untuk dinikmati atau tidak?
Sebagian menjadikan cerita sebagai prioritas, sebagian memilih betapa
menyenangkan atau menantangnya gameplay yang ditawarkan, namun tidak
sedikit yang sekedar mengacu pada seberapa indah kualitas visual yang
disuntikkan developer. Sangat sulit untuk menemukan game yang mampu
memadukan ketiganya di dalam satu proyek yang sama. Namun tidak sedikit
game indie yang berhasil mengeksekusi semua elemen ini dengan hasil yang
luar biasa? Salah satunya adalah proyek ambisius dari Dennaton Games –
Hotline Miami.
Game yang satu ini memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia
mungkin hadir dengan visualisasi penuh piksel yang terlihat ketinggalan
zaman, namun keputusan untuk mempertahankan cita rasa klasik ini justru
menyempurnakan tema utama yang ingin mereka usung. Gameplay yang butuh
koordinasi mata tangan yang tepat, tingkat kesulitan tinggi, cerita yang
kompleks, musik super keren, dan karakterisasi kuat ini membuat banyak
gamer jatuh hati. Tidak mengherankan jika banyak gamer yang
mengantisipasi hadirnya Hotline Miami 2 yang akhirnya dirilis ke
pasaran. Seperti yang bisa diprediksi, ia tetap hadir dengan kualitas
yang tidak kalah luar biasa, bahkan untuk sebuah seri sekuel yang
terlihat berbeda secara visual.
Lantas, apa yang ditawarkan oleh Hotline Miami 2: Wrong Number ini?
Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang brutal dan menyenangkan?
Plot
Seri kedua ini bertindak sebagai prekuel dan sekuel untuk seri pertamanya, dengan jalinan cerita yang cukup kompleks.
Ia mungkin datang dengan kualitas visual yang terasa “main-main”,
namun Hotline Miami boleh terbilang sebagai salah satu game action
dengan plot yang cukup kompleks. Hal yang tidak banyak berbeda
diterapkan di seri kedua ini. Belum pernah memainkan sang seri pertama
sebelumnya? Saran kami adalah menjajalnya sebelum beralih ke seri sekuel
ini, setidaknya untuk meminimalisir sedikit rasa kebingungan yang
tampaknya tidak terhindar. Seperti seri pertamanya, garis cerita Hotline
Miami 2 akan dibangun dari perspektif begitu banyak karakter. Kisah pembunuhan yang dilakukan Jacket di seri pertama kini jadi perhatian berita nasional. “Richard”
Ia akan mengambil garis cerita sebelum dan sesudah Hotline Miami
pertama, bertindak sebagai prekuel dan sekuel, menjelaskan beragam
misteri yang tidak dijawab di seri pertamanya. Setelah berhasil
menghancurkan gang Russia dibawah pengaruh manipulasi organsisasi
misterius bernama 50 Blessings, Jacket kini tengah melewati proses hukum
di tengah sorot media nasional. Di tengah sidang ia kembali bertemu
dengan “Richard” – sang kepribadian dengan topeng ayam-nya yang khas.
Namun tidak lagi hanya pada Jacket, “Richard” mulai muncul di benak
karakter lain yang sempat bersinggungan di event 50 Blessings yang lalu. Benang merah cerita ditarik dari kacamata beberapa karakter, termasuk kelompok bertopeng bernama The Fans ini.
Bagaimana semua karakter ini akan berhubungan satu sama lain? Terlepas
dari visualnya yang terasa “main-main”, Hotline Miami 2 menawarkan garis
cerita kuat dan kompleks.
Cerita Hotline Miami 2 akan terbagi lewat sudut pandang beberapa
karakter. Belum cukup kompleks? Ia juga akan terdiri dari beragam event
dari rangkaian waktu yang juga berbeda, cukup membingungkan, memang.
Anda akan berperan sebagai Martin Brown, The Fans yang terdiri dari
Tony, Mark, Alex and Ash, dan Corey, Manny Pardo, Jake, The Son, The
Henchman, Evan The Writer, Nicklas the Soldier, dan Ritcher.
Cerita seperti apa yang akan mengaitkan begitu banyak karakter ini?
Seperti apa pengaruh yang disematkan oleh “Richard”? Takdir apa yang
menghubungkan setiap darinya dengan Jacket? Semua jawaban dari
pertanyaan ini bisa Anda dapatkan dengan memainkan Hotline Miami 2 ini.
sumber ; jagatplay
Review Batman – The Telltale Series: Memanusiakan Pahlawan!
Telltale Games, nama developer yang satu ini memang berhasil meraih
popularitas cepat di industri game selama beberapa tahun terakhir ini.
Mereka secara konsisten “bermain” di genre interactive story yang
berhasil memikat minat banyak publisher dan pemilik franchise. Dari The
Walking Dead season pertama yang meremukkan hati, Telltale tampaknya
berhak menyandang predikat sebagai salah satu developer paling sibuk
saat ini. Meracik semesta yang sudah ada dan membangun latar belakang
cerita yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya, mereka bahkan
dipercaya menangani Borderlands, Game of Thrones, hingga yang terbaru –
Batman. Untuk nama yang terakhir, si episode pertama yang cukup
diantisipasi ini akhirnya dilepas ke pasaran.
Maka seperti formula yang bisa Anda antisipasi dari sebagian besar
game Telltale yang ada, Batman: The Telltale Series episode pertama ini
mengusung mekanik gameplay yang hampir banayk serupa. Anda akan
berhadapan dengan serangkaian pembicaraan dan opsi pilihan, yang
nantinya akan menentukan respon seperti apa yang Anda dapatkan atau
bahkan menentukan kemana arah cerita bergerak. Tentu saja, untuk
memastikan tema Batman yang tepat sasaran, mereka juga harus
menyuntikkan beberapa fitur baru yang mampu menangkap esensi dari aksi
sang Ksatria Kegelapan tersebut. Apalagi, ini akan jadi momen dimana
Anda bisa memerankan sosok di balik topeng tersebut lebih banyak
daripada aksinya sebagai seorang superhero.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Batman: The Telltale
Series ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang
memanusiakan pahlawan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk
Anda.
Plot
Berita baik untuk Anda yang sudah muak dengan origin story-nya, episode
pertama ini akan langsung membawa Anda pada sosok Batman yang
berpengalaman.
Berita baik untuk Anda yang sudah muak, Anda tak akan lagi berhadapan
dengan cerita asal muasal “lahirnya” Batman yang sepertinya sudah
melewati begitu banyak proses pengulangan di beragam media yang ada. Tak
ada lagi scene di gang gelap yang menewaskan Thomas dan Martha Wayne
lagi atau sosok Bruce Wayne kecil yang terobsesi dengan kelelawar dan
memutuskan untuk menjadikan binatang tersebut sebagai simbolnya melawan
kejahatan di Gotham. Kita langsung masuk ke dalam cerita Batman yang
selama ini kita kenal. Bruce mulai berusaha mengubah Gotham dengan memercayakannya pada sosok Harvey Dent. Berbeda dengan game Batman pada umumnya, sosok di balik topeng inilah yang jadi fokus Telltale di seri ini.
Bruce Wayne sepertinya mengerti bahwa sosok Batman saja tak akan
bisa menjamin bahwa Gotham bisa berubah menjadi lebih baik, terlepas
seberapa kerasnya ia berusaha. Tingkat kriminal memang sudah menurun,
namun ia harus mengakomodasi mereka yang masih bersih untuk menjaga
Gotham dari dalam. Dan tak ada lagi sosok yang lebih baik selain Harvey
Dent, yang ia dukung untuk menjadi Mayor. Dent yang bersih dan tak bisa
dibengkokkan menjadi tumpuan harapan baru Wayne. Salah satu ambisi
awalnya? Menutup Arkham Asylum dan membangun fasilitasi medis yang lebih
baik untuk memastikan penjahat-penjahat Gotham dengan penyakit
psikologisnya bisa disembuhkan. Satu langkah awal menuju Gotham yang
lebih aman. Usaha Wayne ini tentu saja tak akan mudah, apalagi dengan benturan kepentingan yang ada, bahkan dari sisi politik. Tantangan seperti apa yang harus dilalui Bruce Wayne sebagai dirinya sendiri dan Batman?
Namun seperti yang bisa diprediksi, perjalanan ini tak mudah. Bruce
Wayne harus berhadapan dengan begitu banyak ancaman baik sebagai dirinya
sendiri ataupun sebagai identitas rahasianya – Batman. Ia mulai harus
berkompromi dengan keluarga mafia terbesar Gotham untuk sekedar
memastikan Harvey aman, bertarung dengan Catwoman karena berbagi
ketertarikan pada informasi yang sama, hingga berhadapan dengan
Cobblepot – teman masa kecilnya yang kini tumbuh menjadi sosok pria yang
tak lagi ia kenal. Episode 1 seri ini dibangun untuk membangun basis
dari beragam konflik yang harus Anda selesaikan, walaupun harus diakui,
masih belum jelas mana yang akan tumbuh sebagai motor penggerak cerita
utama.
Lantas, konflik seperti apa yang harus dilewati oleh Bruce Wayne?
Bagaimana pula sosok Batman masuk di dalam cerita ini? Cerita
menggantung seperti apa yang ia tawarkan untuk membuat Anda
mengantisipasi episode 2 nantinya? Semua pertanyaan tersebut bisa Anda
jawab dengan memainkan Batman: The Telltale Series episode pertama ini.
sumber : jagatplay
Review Gears of War – Judgement: Hadir Dengan Tantangan Ekstra!
Jika kita membicarkan salah satu game third person shooter terbaik di
industri game, maka nama Gears of War memang tidak mungkin dipisahkan
darinya. Game racikan Epic Games dan dirilis eksklusif untuk konsol
Microsoft ini memang menjadi salah satu standar akan sebuah game aksi
yang berkualitas. Brutal dengan aksi yang terus bergerak mengalir akan
memaksa adrenalin gamer terus terpompa kencang. Tidak ada waktu
istirahat untuk sekedar menikmati indahnya setting yang ditawarkan.
Setelah kesuksesan ketiga seri sebelumnya yang berakhir dengan ending
yang boleh dikatakan cukup memuaskan, Epic kembali menawarkan sebuah
seri Gears of War yang lain lewat sebuah seri terpisah bertajuk
Judgement. Namun tidak dipaksakan sebagai sebuah sekuel untuk plot yang
telah berakhir, Judgement menawarkan sudut pandang yang berbeda.
Anda yang sudah membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah
memiliki sedikit gambaran tentang apa yang sebenarnya ditawarkan oleh
seri yang satu ini. Seperti nilai jual yang sempat ditawarkan oleh tiga
seri sebelumnya, Gears of War: Judgeent masih mampu mempertahankan
identitasnya sebagai salah satu game eksklusif konsol dengan kualitas
visualisasi terbaik. Walaupun tidak lagi mengusung Marcus Fenix sebagai
kekuatan utama, namun apa yang ditawarkan dari karakter yang hanya
menjadi sidekick di masa lalu ini ternyata tidak membuat gaya Gears of
War berubah secara signifikan. Anda yang sudah familiar dengan franchise
ini sebelumnya akan dengan sangat mudah menemukan kembali feel dan
menguasai seri ini dengan cepat.
Lantas bagaimana dengan keseluruhan performa Gears of War: Judgement?
Apa yang membuat kami menyebutnya sebagai sebuah seri Gears of War
dengan tantangan ekstra?
Plot
Anda akan berperan sebagai Kilo Squad yang terdiri dari Baird, Cole, Sofia, dan Paduk.
Hadir dalam timeline sebelum Gears of War pertama, Anda tidak lagi
berperan sebagai sang karakter ikonik – Marcus Fenix. Anda kini akan
menapaki jejak pertempuran Kilo Squad – unit khusus COG yang berperan
besar dalam perang pertama melawan para Locust yang baru memulai
invasinya terhadap Sera. Anda yang sudah familiar dengan franchise ini
tentu mengenali beberapa anggota dari Kilo Squad ini: Damon Baird, Cole
Train, Sofia Hendirk, dan Garron Paduk. Gears of War: Judgement sendiri
akan dimulai dengan sebuah alur yang berkebalikan, dimana Anda akan
bertemu dan berhadapan dengan sebuah pengadilan yang tengah berlangsung.
Alasan di balik pengadilan ini perlahan namun pasti akan terbuka
seiring dengan progress permainan Anda.
Bergerak dalam alur timeline yang mundur, Gears of War: Judgement akan
dibuka dengan adegan pengadilan terhadap Kilo Squad. Anda akan dibawa ke
masa lalu untuk menyusuri misteri apa yang sebenarnya terjadi. All hail General Karn!
Sayangnya keinginan Kilo Squad untuk menghabisi Karn bertentangan
dengan perintah sang atasan yang begitu berniat untuk mengeksekusi
mereka – Loomis
Seiring dengan progress cerita yang ada, Anda tidak hanya akan berperan
sebagai Baird sendiri. Anda akan secara bergiliran berperan sebagai
setiap anggota Kilo Squad yang ada.
Bertempur melewati Halvo Bay di awal permainan, Kilo Squad
terperangkap dalam konflik yang jauh lebih dalam daripada sekedar
menyelesaikan misi utama mereka. Bertemu dengan sang Jenderal Locust
yang menyeramkan – General Karn, Kilo Squad bertekad untuk memberikan
impact yang fatal untuk lawan mereka yang satu ini. Melawan perintah
sang atasan – Loomis yang mengancam akan mengeksekusi mereka, Kilo Squad
tidak lantas mundur. Berbekalkan senjata mutakhir – Lightmass missile
yang dipercaya dapat memukul mundur Karn, pertempuran besar penuh
keberanian pun dimulai. Baird, Cole, Paduk, dan Sofia membuktikan diri
mengapa mereka pantas untuk disandingkan dengan kisah heroik dari Fenix. Is that Marcus Fenix?
Selain campaign utama yang menceritakan prekuel ini, Gears of War:
Judgement juga menawarkan sebuah mode ekstra – Aftermath yang membawa
pertempuran Gears of War 3 ke dalamnya. Lewat kacamata Baird, Cole, dan
Paduk, dan Carmine, Anda akan bertempur dalam sisi cerita yang lain,
menegaskan peran keempat karakter side-kick ini untuk mendukung perang
besar yang tengah digalakkan oleh Fenix. Apresiasi atas kemenangan COG
yang tidak hanya berada di pundak karakter ikonik yang satu ini, tetapi
juga semua pihak yang juga mengorbankan begitu banyak hal untuk mencapai
misi dan visi yang sama.
sumber : jagatplay
Salah satu game yang paling diantisipasi di tahun 2014, predikat yang
satu ini memang pantas untuk dilayangkan kepada Watch Dogs. Setelah
trailer pengenalan yang tampil begitu memesona di ajang E3 2012 yang
lalu, Ubisoft seolah berhasil menetapkan standar baru untuk game yang
pantas disebut sebagai “generasi selanjutnya”. Grafis yang memesona,
gameplay bertema hacking yang belum pernah ditempuh oleh franchise
apapun, serta karakter yang terlihat kuat membuat begitu banyak gamer
jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan penundaan yang sempat terjadi
di akhir tahun 2013 yang lalu, antusiasme untuk segera mencicipinya
justru semakin kuat dan bukannya melemah. Setelah penantian yang cukup
lama, Ubisoft akhirnya merilis Watch Dogs ke pasaran.
Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu saja sudah
mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang ditawarkan oleh Watch Dogs
ini. Menjawab semua keraguan yang sempat tercetus selama beberapa bulan
terakhir, terutama dari sisi visual, Watch Dogs versi PC memang boleh
dikatakan, mampu menawarkan kualitas grafis setara yang ditawarkan di E3
2012 yang lalu. Beberapa efek memang dihilangkan untuk memastikan game
ini tetap bisa dimainkan, namun melihat tekstur, bayangan, dan tata
cahaya yang ditawarkan, ia memenuhi semua ekspektasi tersebut di setting
Ultra. Berita buruknya? Anda membutuhkan PC dengan spesifikasi super
tinggi untuk mencapainya. Namun kita semua tentu saja sangat setuju
bahwa video game bukan hanya soal presentasi visual, tetapi juga
gameplay. Menawarkan kesan pertama yang cukup menarik, bagaimana Ubisoft
akan mengeksekusi mekanik unik ini? Ini tentu menjadi pertanyaan utama.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Watch Dogs ini? Mengapa
kami menyebutnya sebagai game yang ternyata berujung pada pengalaman
bermain yang tidak seunik yang selama ini kami bayangkan? Review ini
akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot
Chicago menjadi kota percontohan implementasi ctOS – sebuah sistem
operasi terintegrasi yang mengendalikan jalannya semua infrastruktur
dalam kota dan data pribadi para penduduk.
Bayangkan sebuah skenario di masa depan, dimana semua perangkat
pintar Anda kini dikendalikan di bawah satu sistem operasi terintegrasi.
Hampir semua layanan yang Anda butuhkan untuk mempermudah kehidupan
sehari-hari, dari data finansial, kesehatan, hingga kehidupan dunia maya
Anda bergerak di bawah pondasi perangkat lunak ini. Tidak hanya itu
saja, semua infrastruktur kota juga dikendalikan menggunakan sistem
operasi yang sama. Terdengar seperti kota masa depan yang menjanjikan?
Sayangnya tidak. Dengan berpusat hanya pada satu ladang informasi,
mekanisme seperti ini menjadi tambang emas bagi para hacker. Tema inilah
yang menjadi kekuatan utama Watch Dogs.
Yang dibutuhkan untuk menguasai Chicago hanyalah sebuah akses jalan
belakang terhadap ctOS – sistem operasi utama yang mengendalikan
infrastruktur sekaligus memuat semua data penduduk di dalamnya. Aiden
Pearce dan Damien Brenks tampaknya sangat mengerti akan hal tersebut.
Kemampuan untuk meretas ctOS digunakan untuk merampok secara “digital”
Merlaut Hotel – tempat para elite Chicago berkumpul. Sayangnya, proses
peretasan yang dilakukan ini justru berbalik arah. Identitas keduanya
terekspos dan harga untuk kepala mereka dilemparkan. Aiden Pearce dan
Damien Brenks menjadi target para pembunuh bayaran di Chicago. Pearce
memang berhasil selamat, namun ia harus kehilangan sang keponakan
tercinta – Lena.
Aksi kejahatannya di Merlaut Hotel membuat Pearce menjadi sasaran para
pembunuh bayaran. Ia berhasil selamat, namun sang keponakan tercinta –
Lena meregang nyawa.
Didorong motif balas dendam, Aiden Pearce berusaha mencari siapa yang
sebenarnya bertanggung jawab atas perintah pembunuhan tersebut.
Dengan bantuan Clara dan T-Bone, dan sebuah ruang khusus pusat
informasi “The Bunker”, Aiden mulai menyusuri jalan misteri yang
menghantui dirinya selama ini.
Bulan-bulan setelah masa dukanya, misi Aiden Pearce saat ini hanya
satu – mencari siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas nyawa sang
keponakan tersayang. Sumber informasi pertama meluncur dari sang
eksekutor lapangan – Maurice Vega, yang sayangnya tidak memberikan nama
atau lokasi apapun. Di tengah kekacauan ini, Aiden juga berhadapan
dengan Damien Brenks yang keluar dari “tidur panjangnya”, menculik sang
kakak tercinta untuk memaksa Aiden bekerja sama. Bagaimana Aiden bisa
menangani semua hal buruk yang seolah terjadi pada dirinya secara
beruntun ini? Untungnya, Aiden didukung oleh dua companion hacker yang
lain – Clara dan T-Bone. Bersenjatakan sebuah ruang lawas lahirnya ctOS
yang mampu mengakses semua informasi Chicago secara sekaligus – The
Bunker, perburuan Aiden dimulai.
Lantas, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab? Halangan seperti apa
yang harus dilalui Pearce? Semua jawaban dari pertanyaan ini bisa Anda
jawab dengan memainkan Watch Dogs ini.
Lantas, siapa yang sebenarnya yang bertanggung jawab atas harga
kepala Aiden dan tewasnya sang keponakan tercinta? Bisakah di tengah
mimpi buruk ini, Aiden juga menyelematkan sang kakak? Siapa pula Clara
dan T-Bone? Semua jawaban dari pertanyaan ini bisa Anda jawab dengan
memainkan Watch Dog sini.
sumber : jagatplay