SINOPSIS Resident Evil The Final Chapter (2017) Terlengkap

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 15 April 2017

SINOPSIS Resident Evil The Final Chapter (2017) Terlengkap

SINOPSIS Resident Evil The Final Chapter. Inilah saat yang paling dinantikan oleh para penggemar film Resident Evil. Seri terakhir berjudul Resident Evil The Final Chapter ini akan menjadi tontonan wajib bagi kamu yang telah dengan setia menonton film ini sejak pertama kali dirilis pada tahun 2002 silam.
Dalam film Resident Evil The Final Chapter ini, Alice yang masih diperankan oleh aktris kelahiran Ukraina, Milla Jovovich akan bertempur mati-matian melawan serangan Umbrella Corporation yang ingin memusnahkan umat manusia. Di film Resident Evil The Final Chapter ini juga akan diceritakan Alice akan kehilangan kemampuan supernya.
Selain Milla Jovovich, film Resident Evil The Final Chapter ini juga dibintangi oleh artis-artis terkenal Hollywood seperti Ali Larter, Shawn Roberts, Iain Glen, dan Ruby Rose. Seperti halnya di film sebelumnya, The Final Chapter ini masih ditangani oleh sutradara Paul W.S. Anderson yang juga merangkap sebagai produser dan penulis naskah.
SINOPSIS Resident Evil: The Final Chapter
Resident Evil: The Final Chapter
Screen Gems selaku distributor film Resident Evil The Final Chapter ini akan merilisnya pada 27 Januari 2017 mendatang. Oke langsung saja kita simak Sinopsis Resident Evil The Final Chapter selengkapnya.

SINOPSIS Resident Evil The Final Chapter :

Bertempat langsung setelah kejadian di “Resident Evil: Retribution”, umat manusia sudah tiba pada pijakan kaki terakhir setelah Alice dikhianati oleh Wesker di Washington DC.
Sebagai satu-satunya manusia yang selamat dari apa yang insiden yang disebut sebagai perlawanan manusia paling akhir menghadapi gerombolan zombie, Alice harus kembali ke Raccoon City, di mana Umbrella Corporation menggalang kekuatannya untuk melancarkan serangan pamungkas kepada mereka yang selamat dari kehancuran.
Berpacu dengan waktu, Alice kemudian bergabung dengan teman-teman lama, dan sekutu yang mustahil, dalam sebuah pertempuran dengan gerombolan mayat hidup dan monster mutan baru.
Antara kehilangan kekuatan super dan serangan Umbrella yang akan datang, ini akan menjadi pertempuran paling sulit Alice ketika ia berjuang untuk menyelamatkan umat manusia, yang nyaris terlupakan.
Detail Film Resident Evil The Final Chapter :
  • Sutradara : Paul W.S. Anderson
  • Produser : Paul W.S. Anderson, Jeremy Bolt, Robert Kulzer, Samuel Hadida
  • Penulis Naskah : Paul W.S. Anderson
  • Genre : Aksi, Fiksi Ilmiah, Thriller
  • Durasi : 106 menit
  • Tanggal Rilis Perdana : 27 Januari 2017
  • Studio : Screen Gems
Pemain Film Resident Evil The Final Chapter :
  • Milla Jovovich sebagai Alice
  • Ali Larter sebagai Claire Redfield
  • Shawn Roberts sebagai Albert Wesker
  • Iain Glen sebagai Dr. Alexander Isaacs
  • Ruby Rose sebagai Abigail
  • Eoin Macken sebagai Doc
  • William Levy sebagai Christian
  • Lee Joon-gi sebagai Lee
  • Rola sebagai Cobalt
  • Fraser James sebagai Michael
  • Ever Gabo Anderson sebagai Alicia Marks / Red Queen
More about → SINOPSIS Resident Evil The Final Chapter (2017) Terlengkap

SINOPSIS Transformers: The Last Knight (2017) – Ksatria Terakhir

Diposting oleh Unknown

SINOPSIS Transformers: The Last Knight (2017) – Ksatria Terakhir



SINOPSIS Transformers: The Last Knight. Sutradara terkenal Michael Bay kembali menangani sekuel film Transformers yang berjudul Transformers: The Last Knight. Kesuksesan film sebelumnya, Transformers: Age of Extinction tidak lepas dari tangan dingin sang sutradara ditambah lagi hadirnya aktor terkenal Mark Wahlberg membuat film tentang robot-robot raksasa ini menjadi semakin “hidup”.
Yupz, cerita di film Transformers: The Last Knight ini masih berfokus pada pertempuran antara manusia yang bersekutu dengan Autobots pimpinan Optimus Prime, melawan kelompok robot jahat, Decepticons yang dipimpin oleh Megatron. Dalam film Transformers: The Last Knight ini diceritakan Optimus Prime ingin menghidupkan planet asalnya yang telah mati dengan bantuan sebuah artefak yang berada di bumi.
Selain Mark Wahlberg, sosok prajurit pemberani, Kolonel William Lennox yang diperankan oleh aktor Josh Duhamel masih akan tampil dalam film Transformers: The Last Knight ini. Bagi kamu yang penasaran dengan film ini harap sabar dulu, karena film ini akan dirilis pada 23 Juni 2017 mendatang. Langsung saja kita simak Sinopsis Transformers: The Last Knight selengkapnya.
SINOPSIS Transformers: The Last Knight
Transformers: The Last Knight

SINOPSIS Transformers: The Last Knight :

Film Transformers: The Last Knight berkisah tentang Optimus Prime yang menemukan planet asalnya, Cybertron, yang telah menjadi planet mati. Ia kemudian mencari siapa yang bertanggung jawab yang menghancurkan planetnya.

Ia menemukan cara untuk menghidupkan kembali planetnya tersebut, tetapi untuk melakukannya ia memerlukan sebuah artefak, dimana artefak tersebut berada di Bumi.
Detail Film Transformers: The Last Knight :
  • Sutradara : Michael Bay
  • Produser : Tom DeSanto, Akiva Goldsman, Don Murphy, Clayton Townsend
  • Penulis Naskah : Akiva Goldsman, Andrew Barrer, Lindsey Beer, Gabriel Ferrari, Matt Holloway, Art Marcum, Zak Penn
  • Genre : Superhero, Aksi
  • Tanggal Rilis Perdana : 23 Juni 2017
  • Studio : Paramount Pictures
Pemain Film Transformers: The Last Knight :
  • Mark Wahlberg sebagai Cade Yeager
  • Stanley Tucci sebagai Joshua Joyce
  • Isabela Moner sebagai Izabella
  • Josh Duhamel sebagai William Lennox
  • Tyrese Gibson sebagai Robert Epps
  • John Turturro sebagai Seymour Simmons
  • Santiago Cabrera sebagai Tentara yang memimpin T.R.F. (Transformers Reaction Force)
  • Laura Haddock sebagai Vivian Wembley
  • Anthony Hopkins sebagai Sir Edmund Burton
  • Liam Garrigan sebagai King Arthur
  • Jerrod Carmichael
  • Mitch Pileggi
Autobots :
  • Optimus Prime – Pemimpin Autobots yang bisa berubah menjadi Truk Trailer
  • Bumblebee – berubah menjadi Chevrolet Camaro
  • Hound – berubah menjadi Mercedes Unimog
  • Drift – berubah menjadi Mercedes-AMG GT R warna hitam dan merah
  • Crosshair – berubah menjadi Chevrolet Corvette C7 Stingray warna hijau dan hitam
  • Hot Rod – berubah menjadi Lamborghini Centenario LP770-4 dan Citroën DS
  • Sqweeks – Autobot kecil
  • Grimlock – pemimpin Dinobots
Decepticons :
  • Megatron – Pemimpin Decepticons
  • Barricade – berubah menjadi Ford Mustang police car
  • Onslaught – berubah menjadi Western Star 4900SF tow truck
  • Hooligan – berubah menjadi Volkswagen Type 2
  • Mohawk – berubah menjadi motor
Sumber : http://sinopsisfilmbaru.com/sinopsis-transformers-the-last-knight-2017/
More about → SINOPSIS Transformers: The Last Knight (2017) – Ksatria Terakhir

SINOPSIS Spider-Man: Homecoming (2017) – Kisah Peter Parker Muda

Diposting oleh Unknown

SINOPSIS Spider-Man: Homecoming (2017) – Kisah Peter Parker Muda


SINOPSIS Spider-Man: Homecoming. Ada apa dengan kisah manusia laba-laba Spider-Man di tahun 2017 ini? Yupz, di film terbaru berjudul Spider-Man: Homecoming ini sosok Peter Parker akan diperankan oleh aktor muda Tom Holland, yang sebelumnya ikut ambil bagian dalam film Captain America: Civil War.
Cerita di film Spider-Man: Homecoming ini akan berfokus pada usaha Spider-Man untuk mengalahkan musuh barunya yang bernama Vulture, sosok penjahat super bersayap besi. Di setiap film barunya, selalu ada perubahan dalam kostum Spider-Man. Di film Spider-Man: Homecoming ini pun juga begitu. Pihak produksi menambah “sayap” transparan pada kostum manusia laba-laba itu sehingga terlihat seperti bisa terbang.
Yang tak kalah serunya lagi, hadirnya Tony Stark (Robert Downey Jr.) dalam film Spider-Man: Homecoming ini. Dalam film arahan sutradara Jon Watts ini, Tony Stark akan berperan sebagai “guru pembimbing” Peter Parker dalam menumpas kejahatan.
SINOPSIS Spider-Man: Homecoming
Spider-Man: Homecoming
Film Spider-Man: Homecoming ini juga dibintangi oleh Zendaya, Donald Glover, Jacob Batalon, Laura Harrier, dan masih banyak lagi. Rencananya film ini akan menyapa penggemarnya pada tanggal 7 Juli 2017 mendatang. Oke langsung saja kita simak Sinopsis Spider-Man: Homecoming selengkapnya.

SINOPSIS Spider-Man: Homecoming :

Film ini masih menceritakan tentang sosok Peter Parker (Tom Holland), seorang pemuda tanggung yang memiliki kekuatan laba-laba. Peter harus membagi waktunya antara menjadi manusia normal dan menjadi manusia laba-laba, Spider-Man.
Saat ini dia memperoleh bantuan dari Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang membuatnya menjadi jauh lebih hebat. Namun, kemunculan sosok penjahat bernama Vulture (Michael Keaton) yang menteror kota membuat Spider-Man harus berusaha menghadapi penjahat itu demi menjaga keselamatan seluruh kota.
Detail Film Spider-Man: Homecoming :
  • Sutradara : Jon Watts
  • Produser : Kevin Feige, Amy Pascal
  • Penulis Naskah : John Francis Daley, Jonathan M. Goldstein
  • Genre : Aksi, Petualangan, Fantasi
  • Tanggal Rilis Perdana : 07 Juli 2017
  • Studio : Sony Pictures
Pemain Film Spider-Man: Homecoming :
  • Tom Holland sebagai Peter Parker / Spider-Man
  • Michael Keaton sebagai Adrian Toomes / Vulture
  • Zendaya sebagai Michelle
  • Donald Glover
  • Jacob Batalon sebagai Ned Leeds
  • Laura Harrier sebagai Liz Allan
  • Tony Revolori sebagai Flash Thompson
  • Bokeem Woodbine sebagai Shocker
  • Marisa Tomei sebagai May Parker
  • Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark / Iron Man
sumber : http://sinopsisfilmbaru.com/sinopsis-spider-man-homecoming-2017/
More about → SINOPSIS Spider-Man: Homecoming (2017) – Kisah Peter Parker Muda

Review Fast and Furious 8 – Kelanjutan Fast & Furious yang Lebih Sinting dari Sebelumnya

Diposting oleh Unknown

Review Fast and Furious 8 – Kelanjutan Fast & Furious yang Lebih Sinting dari Sebelumnya

film the fate of the furious


Sinopsis

Kamu-kamu pembaca review Fast and Furious 8 mungkin sudah menyaksikan trailer film yang satu ini. Plotnya sudah tergambar jelas di sana.
Terdorong oleh sesuatu hal, Dominic Toretto mengkhianati keluarga dan rekan-rekannya sendiri dalam satu misi. Pengkhianatannya itu menyebabkan Luke Hobbs tertangkap dan rekan-rekannya kebingungan.
Dom sendiri beralih mendukung Cipher, seorang teroris siber genius yang sangat kompeten dan berbahaya. Mampukah Hobbs, Letty, dan kru Dom mengalahkan kombo Cipher dengan Dom? Ataukah mungkin mereka butuh bantuan dari mantan musuh tak terduga, yang bisa menjadi sekutu kuat bila orang itu tidak berkhianat?

Peningkatan Kegilaan Fast and Furious


Pernah ada masa di mana Fast and Furious hanya fokus ke balap jalanan dan aksi-aksi yang melibatkan kegiatan itu. Tapi kita sudah jauh meninggalkannya. Sekarang, film ini memang masih menonjolkan aksi otomotif. Namun kamu juga akan menemukan aksi-aksi heboh yang membuat film ini terasa seperti film superhero.
Oh ya, Fast and Furious memang semakin lama terasa seperti film superhero. Penulis menyadari itu saat melihat ada karakter yang tidak bisa dilumpuhkan dengan peluru karet, ditembakkan oleh senapan, dari jarak dekat. Ada juga karakter-karakter yang dapat menggunakan kemampuan mengemudi untuk menghindari roket atau mengatasi banyak musuh sekaligus.
Mereka mungkin tidak punya kekuatan super. Tapi kalau tokoh-tokoh ini dicabut dari Fast and Furious lalu membantu Avengers, penonton rasanya tidak akan heran saat mereka unjuk gigi.
Kalau sebelum-sebelumnya kamu bisa melihat tank menggila serta mobil terlontar dari angkasa, ada lebih banyak aksi sinting lagi menantimu di Fast and Furious 8.

Sangat Penuh Aksi

trailer the fate of the furious
Durasi Fast and Furious 8 cukup panjang, sampai kira-kira 2 jam 16 menit. Tapi kalau kamu suka aksi, kamu bisa jadi tak akan merasakan bergeraknya aliran waktu saat menyaksikan film ini. Alasannya, sutradara F. Gary Gray cukup piawai dalam menyajikan adegan-adegan aksi di film ini.
Tentu ada banyak adegan aksi di Fast and Furious 8. Kebut-kebutan seru? Sejak awal saja kamu bisa melihatnya. Tembak-tembakan? Ada, dan semakin ke akhir film semakin heboh. Baku hantam tangan kosong? Kamu juga bisa melihatnya.
Tapi aksi non-stop tanpa pengaturan yang baik tentu akan menjemukan. Sutradara F. Gary Gray sukses membuat kamu peduli mengikuti setiap adegan aksi tersebut. Selalu ada selipan kejadian-kejadian vital untuk mengejutkan penonton dan membuatmu tak sabar menantikan apa yang terjadi berikutnya.
Film ini sendiri tidak malu-malu untuk menampilkan drama dan komedi. Terkadang ada adegan konyol dari kru pahlawan kita yang bisa membuatmu tersenyum dan menurunkan tensi. Terkadang ada juga drama yang bisa membantumu lebih mengenal masing-masing tokoh.
Pokoknya, asal kamu bukan orang yang benci film aksi dan kekerasan, Fast and Furious 8 seharusnya tidak akan membuat kamu kecewa.

Penjahat yang Efektif


Hal lain yang akan disorot review Fast and Furious 8 ini adalah penjahat di filmnya. Cipher, yang diperankan Charlize Theron, terasa cukup oke sebagai antagonis. Dia tidak memiliki kemampuan bertarung Jason Statham tentu, tapi dia bisa menyajikan sosok yang karismatik dengan motif yang cukup jelas.
Selain itu, Cipher juga senantiasa terasa sebagai ancaman. Sejak ia muncul pertama kali, ia selalu bisa membuat para protagonis terancam. Kamu akan benar-benar dibuat penasaran bagaimana para pahlawan kita akhirnya bisa mengalahkannya.

 sumber : http://www.duniaku.net/2017/04/12/review-fast-and-furious-8/2/
More about → Review Fast and Furious 8 – Kelanjutan Fast & Furious yang Lebih Sinting dari Sebelumnya

Sinopsis Film Bioskop The Justice League Part One (2017)

Diposting oleh Unknown

Sinopsis Film Bioskop The Justice League Part One (2017)

The Justice League Part One (2017) yang ceritanya berfokus pada inkarnasi asli dari Justice League of America : Superman, Batman, Wonder Woman, Aquaman, Flash, Green Lantern, Mars Manhunter melawan penjahat baru yang sangat super hebat dan juga sulit untuk dikalahkan, informasi detail film dan siapa sajakah pemerannya langsung saja simak ulasannya sebagai berikut ini.

Menurut My Entertainment World, berikut sinopsis yang mereka sebut sinopsis tak resmi Justice League Part One:
“Para pahlawan terhebat di dunia berkumpul untuk membentuk tim Justice League, demi memerangi satu ancaman yang melampaui batas kemampuan setiap anggota tim. Dikisahkan Darkseid berencana menghancurkan Bumi dengan menggunakan sinar yang akan menabrakkkan planet Apokolips ke area Bumi.”
Jika villain yang disebut sinopsis ini terbukti benar, maka Justice League versi DC Extended Universe sepertinya akan mengakar pada “New 52”. Pasalnya, dalam kontinuitas komik New 52, Darkseid menjadi musuh pertama yang dihadapi Justice League.
Sinopsis film lainnya : Captian America Civil War (2016)
Darkseid sendiri merupakan salah satu villain terkuat DC yang punya misi utama menguasai alam semesta. Kekuatan utama Darkseid adalah Omega Beams, energi cahaya yang berasal dari mata atau tangannya yang mampu melenyapkan benda hidup dan mati dengan seketika. Darkseid juga tergolong populer, sehingga tak aneh jika Snyder memang benar memilihnya sebagai villain film.
Sementara cast dan anggota tim Justice League masih belum diumumkan, Part One dijadwalkan syuting di Inggris pada kuartal pertama atau kedua pada 2016. Berbeda dengan kabar sebelumnya, produser Charles Roven mengkonfirmasi proses syuting Part One dan Part Two takkan dilakukan secara marathon. Ini menandakan, kedua film berpotensi memiliki cerita yang terpisah sehingga villain-nya mungkin juga akan berbeda-beda.
  • Rilis: Summer TBA 2017
  • Genre: Superhero, Action, Adventure, Sci-Fi, Comic Book
  • Rating: R
  • Director: George Miller
  • Distributor: Warner Bros. Pictures
  • Tanggal Rilis Perdana : 12 November 2017
  • Cast:

  • – Teresa Palmer
    – Adam Brody
    – Common
    – Henry Cavill
    – Jason Momoa,
    – Amy Adams
    – Ben Affleck

Pastinya anda penasaran bukaan! Bagaimana sih dengan Sinopsis Film The Justice League Part One (2017) yang akan rilis di tahun 2017 depan, jadi tunggu saja tayangnya dan langsung tonton filmnya agar tahu ceritanya sampai akhir.
More about → Sinopsis Film Bioskop The Justice League Part One (2017)

Review Film: 'Get Out' (2017)

Diposting oleh Unknown

Review Film: 'Get Out' (2017)

Menemui calon mertua memang selalu menegangkan, tapi belum pernah sampai mengancam nyawa seperti yang dialami Chris.

“Man, I told you not to go in that house.”
— Rod
Apa yang lebih menyeramkan daripada bertemu dengan calon mertua untuk pertama kalinya? Berkulit hitam, tinggal di Amerika, lalu bertemu calon mertua untuk pertama kalinya, dan mereka berkulit putih! Anehnya, calon mertua ini menyambut Chris (Daniel Kaluuya) dengan senyuman dan pelukan yang sangat hangat. Saya tak mau terdengar sebagai orang yang anti-antirasis, namun sambutan mereka memang sedemikian ramah hingga terlihat mencurigakan. Apa yang sebenarnya terjadi disini?


Itu adalah pertanyaan yang berkali-kali terlontar saat saya menonton Get Out, film horor-satir dari sutradara debutan Jordan Peele yang sebelumnya lebih populer sebagai komedian. Film ini bisa menjadi parodi karena ia menggunakan beberapa tradisi klise dari film horor, namun ia juga ditangani dengan serius layaknya film horor sungguhan. Di beberapa waktu film ini akan memancing gelak tawa tapi ia tak berhenti mencengkeram kita dengan misterinya.

Meski demikian, saya pikir kekuatan utama dari film ini adalah perspektif sosial yang menjadi subteksnya — sebelum kemudian menjadi blak-blakan di momen puncak yang over-the-top. Peele yang juga menulis naskah menciptakan ketegangan berdasarkan prasangka rasialis alih-alih trik horor konvensional. Ia masih menggunakan trik-trik standar tersebut, namun kita dibuat tak nyaman lebih karena kita tahu bahwa Chris more or less merasa ia tak selayaknya berada di lingkungan kulit putih tersebut. Karena perbedaan kultur dengan kita, film ini mungkin lebih efektif bagi penonton Amerika yang saat ini tengah hangat-hangatnya mengangkat isu rasisme.

"Apa mereka tahu kalau aku berkulit hitam?" tanya Chris kepada pacarnya Rose (Allison Williams). Rose belum memberitahu mereka tapi ia yakin bahwa orangtuanya akan menerima sebagaimana ia menerima Chris apa adanya. Chris waswas, apalagi sobatnya, Rob (Lil Rel Howery) sudah memperingatkannya. Namun Rose begitu mempesona, begitu perhatian, bahkan berani membela Chris yang menjadi sasaran prasangka dari seorang polisi, sehingga Chris setuju pergi ke rumah mereka yang terpencil.

Orangtua Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) ternyata adalah warga kelas atas yang berpikiran sangat terbuka, hingga katanya mereka mau menyumbang suara bagi Obama untuk ketiga kalinya jika bisa. Well, itu lumayan melegakan, kalau saja Dean tak menekankan poin bagaimana ia dan keluarga sebagai antirasis, berkali-kali. Dean bekerja sebagai dokter spesialis syaraf sedangkan Missy adalah pakar hipnoterapi, dan saya tidak menulis kalimat ini untuk memanjangkan paragraf. Detil ini penting.

Yang lebih mencurigakan adalah dua pembantu rumah tangga mereka yang berkulit hitam: tukang bersih-bersih Georgina (Betty Gabriel) dan tukang kebun Walter (Marcus Henderson). Senyuman mereka canggung, bahasa mereka sopan, gestur mereka seperti bangsawan, dan apa itu yang mereka lakukan di malam buta? Belum lagi adik Rose (Caleb Landry Jones) yang terobsesi dengan kekuatan fisik Chris. Sialnya, sebentar lagi akan berlangsung gathering dengan para tetangga yang digambarkan Rose sebagai orang-orang kaya yang "so white". Mereka juga sangat ramah terhadap Chris, tapi ini justru membuat Chris semakin tak nyaman.

Kaluuya (yang namanya baru saya dengar, btw) tampil kuat sebagai pemuda biasa yang simpatik, yang otomatis memposisikan kita di sisi Chris. Ia boleh dibilang tegang sepanjang film, begitupun kita. Dan ini adalah kunci kesuksesan filmnya mencengkeram kita: kita tahu ada yang tak beres saat kita tahu kita don't belong tapi orang-orang di sekitar malah bersikap sangat sangat sangat akrab. Mereka tak melakukan hal yang berbahaya tapi gerak-geriknya janggal, yang membuat Chris permisif dan waspada di saat bersamaan. Chemistry Kaluuya dengan Williams meyakinkan, kita percaya Rose benar-benar mendengarkan setiap keluhan Chris dan ingin berbuat sesuatu.

Pacing-nya yang pelan membuat Get Out terasa lebih lama daripada durasi sebenarnya, namun saat momentumnya terseok, Peele menginjeksi beberapa sentakan untuk membuat kita tetap penasaran. Pengungkapan besarnya tak begitu mengejutkan memang, tapi Peele menjaga agar kita tetap terikat dengan filmnya dan menebak-nebak apa yang akan terjadi berikutnya. Meski demikian, momen klimaks yang intens mungkin tak seseram yang ia maksudkan. 'Get Out' works best when it's all about suspense.

Sebagai film pertamanya, Peele menunjukkan gaya visual yang boleh juga. Adegan pembuka yang disorot dengan one-shot dan steadicam, menetapkan nuansa film dengan baik. Peele tampaknya sadar dengan gerakan kamera dan detil set untuk pembangunan atmosfer. Ia juga mampu melakukan tiki-taka antara komedi dengan misteri dengan mulus, sehingga tak terjadi kesenjangan tone. Karakter Rob yang sedikit lebay dengan persepsi bahwa yang dialami Chris adalah "brainwashing sex-slave conspiracy s**t" bukan menjadi sekedar comic relief semata.

Well, entahlah. Saya tak mendapati film ini tak seluar biasa hype-nya (khususnya karena paruh akhir), namun memang pembangunan atmosfernya cukup efektif. Lewat film ini, keterampilan Peele menggarap momen menyeramkan cukup menjanjikan. Filmnya sukses menjadi sebuah film horor yang menyeramkan sekaligus lucu tanpa menjadi film komedi olok-olok. Saya rasa sebuah keberhasilan ketika sebuah film mencoba menggabungkan genre yang kontras dan mampu melakukannya di akhir.
sumber : http://www.ulasanpilem.com/2017/04/review-get-out.html
More about → Review Film: 'Get Out' (2017)

Review Film: 'Life' (2015)

Diposting oleh Unknown

1

Review Film: 'Life' (2015)

Anton Corbijn merangkai komposisi gambar yang sangat stylish, hampir di setiap adegan. Dalam 'Life', visual tampil lebih menarik dibanding narasi.

“I want to capture his awkwardness. It's pure.”
— Dennis Stock
Saya merasa ada sedikit indikasi homoseksualitas antara ikon anak muda abad 20, James Dean dengan fotografer majalah Life, Dennis Stock dalam interaksi singkat mereka pada tahun 1955. Saya tak ingin berspekulasi, tapi hubungan mereka ganjil. Lihat tatapan kikuk dari Stock saat Dean bercumbu dengan pacarnya atau kecanggungan saat mereka memilih rekan dansa. Ketika Dean apatis dengan obsesi Stock, kenapa Stock ngambek? Apakah perasaannya terluka? Bukankah hubungan ini sebatas profesi?

Anton Corbijn mungkin adalah sutradara yang paling cocok untuk mengarahkan Life. Alih-alih menjadi biopik, film ini menyoroti hubungan antara fotografer dengan subyeknya. Kita mengintip sekilas mengenai pribadi keduanya sekaligus menyaksikan re-kreasi momen (dan foto) ikonik dari sang legenda: Dean di salon, di kampung halamannya, dan tentu saja di Times Square. Komposisinya nyaris akurat, setidaknya dilihat dari foto orisinalnya yang ditampilkan pada credit title.

Untuk menonton film ini, anda mungkin membutuhkan beberapa "amunisi" karena naskah dari Luke Davies tak menyediakan eksposisi karakter yang mumpuni. Stock adalah fotografer yang berada di balik foto terkenal James Dean. Dan jika anda telah membaca hingga kalimat ini, saya berasumsi bahwa anda tentu tahu siapa James Dean. Keduanya bertemu di pesta yang diadakan oleh Nicholas Ray, pasca film East of Eden dirilis dan Dean (Dane DeHaan) menunggu kabar audisi untuk Rebel Without a Cause.


Robert Pattinson bermain sebagai Stock, fotografer muda yang mengejar karir profesional di Los Angeles dengan meninggalkan anak dan istrinya di New York. Jenuh dengan pekerjaannya memotret foto red carpet, Stock melihat ada sesuatu yang menarik dari rising star, James Dean dan ingin memanfaatkannya sebagai bantu loncatan. Di lain pihak, Dean pun ingin menggunakan momentum ini untuk mendongkrak karirnya di dunia perfilman. Sebelum anda kecewa, film ini berakhir beberapa bulan sebelum tragedi kecelakaan yang menewaskan Dean.

Saya melihat dua orang ini sama-sama rapuh dan berusaha mencari tempat di dunia nyata dengan caranya masing-masing, kesamaan yang membuat keduanya terikat mendekati akhir film. Dean adalah bintang baru yang ingin meraih popularitas lebih, tapi tak mau mengikuti pakem yang telah dirancang oleh petinggi studionya, Jack Warner (dimainkan dengan singkat namun berkesan oleh Ben Kingsley). Stock punya masalah karir yang lebih ringan dengan desakan dari bosnya (Joel Edgerton), tapi konflik personalnya lebih pelik saat hubungannya dengan sang anak tak begitu baik. Davies mencoba menyelipkan sedikit sentimentalisme termasuk saat Dean pulang kampung dan menghabiskan waktu bersama keluarganya meski subplot ini terasa datar.

DeHaan dan Pattinson memberikan usaha yang maksimal (khususnya DeHaan yang menampilkan pembawaan Dean dengan baik, meski hanya punya sedikit kesamaan fisik), namun keduanya tak punya daya tarik yang membuat karakternya menonjol.

Sebelumnya Corbijn dikenal sebagai fotografer. Portfolionya termasuk beberapa musisi terkenal seperti Bjork dan U2. Ia menunjukkan talentanya dalam merangkai komposisi gambar yang sangat stylish, hampir di setiap adegan. Dalam Life, visual tampil lebih menarik dibanding narasi. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Serena' |
|

IMDb | Rottentomatoes
111 menit | Dewasa

Sutradara Anton Corbijn
Penulis Luke Davies
Pemain Robert Pattinson, Dane DeHaan, Ben Kingsley

sumber : http://www.ulasanpilem.com/2016/01/review-life-2015.html
More about → Review Film: 'Life' (2015)

Review Film: The Boss Baby, Bukan Kisah Bayi Biasa

Diposting oleh Unknown

Review Film: The Boss Baby, Bukan Kisah Bayi Biasa

Bioskop Indonesia lagi-lagi kedatangan film animasi. Setelah Smurf: The Lost Village, di pekan pertama April ini akan hadir film animasi, The Boss Baby. Begitu dirilis di Amerika Serikat pada 31 Maret 2017 lalu, film garapan DreamWorks Animation ini langsung menggeser posisi Beauty and The Beast yang sudah 2 minggu berturut-turut bertengger di peringkat pertama Box Office Amerika. Lalu apa yang sebenarnya membuat The Boss Baby menarik?
Film The Boss Baby diadaptasi dari buku cerita bergambar karya Marla Frazee yang rilis di tahun 2010. Kisahnya berawal dari Tim Templeton (Miles Christopher Bakshi), bocah berusia 7 tahun yang merasa kehidupannya sangat sempurna. Sebagai anak tunggal, Tim sangat disayang oleh kedua orang tuanya, Ted (Jimmy Kimmel) dan Janice (Lisa Kudrow). Sayangnya kebahagiaan Tim tidak berlangsung lama karena datangnya anggota baru, bayi laki-laki yang sangat menggemaskan bernama Theodore alias Boss Baby (Alec Baldwin). Bencana pun mulai datang, Tim yang sudah terbiasa dimanja orang tuanya terpaksa harus berbagi kasih sayang dengan Boss Baby. Kehadiran Boss Baby pun membuat hari-hari Tim berubah 180 derajat.

Pada suatu malam Tim menemukan fakta bahwa Boss Baby ternyata bukanlah bayi biasa. Selain berbicara layaknya orang dewasa, Boss Baby ternyata adalah seorang agen rahasia dari perusahaan bayi bernama Baby Corp. Baby Corp memiliki misi khusus untuk menjaga kelangsungan hidup bayi karena ancaman Puppy Co, sebuah perusahaan anak anjing. Di bawah pimpinan Francis E. Francis (Steve Buscemi), Puppy Co punya misi khusus untuk membuat manusia lebih mencintai puppies alias anak anjing ketimbang bayi. Tim dan Baby Boss pun akhirnya bekerja-sama untuk menggagalkan misi Francis.

Meski mendapatkan rating yang tidak begitu memuaskan dari kritikus film, faktanya film The Boss Baby mampu memuncaki Box Office di pekan perdana penayangannya. Alur ceritanya pun mudah ditebak, namun akan segera terlena saat menyaksikan aksi-aksi lucu nan menggemaskan dari Boss Baby dan teman-temannya. Film ini cukup menghibur untuk ditonton bersama keluarga dan sarat akan pesan moral, apalagi ditambah dengan iringan soundtrack lagu Blackbird milik The Beatles yang menyatu dengan tema film The Boss Baby.

Sebagai film animasi, The Boss Baby punya banyak daya tarik yang cukup kuat di jajaran pengisi suaranya. Alec Baldwin sebagai pengisi suara Boss Baby mampu dengan baik memerankan karakter bayi yang sok bossy. Sementara itu Jimmy Kimmel, pembawa acara yang dikenal lewat talkshow, Jimmy Kimmel Live ini juga mampu memerankan dengan baik sebagai pengisi suara Dad. Begitu pula dengan Lisa Kudrow yang mengisi suara untuk karakter Mom.
Aktor pemeran Spider-Man, Tobey Maguire pun tak ketinggalan ikut menyumbangkan suaranya sebagai Tim dewasa sekaligus narator di filmnya. Kejutan lainnya adalah kamu akan menemui beberapa mainan ikonik yang pernah muncul di film Toy Story. Seru sekali ya!
Disutradarai oleh Tom McGrath yang juga merupakan sutradara dari 3 film Madagascar dan Megamind (2010), The Boss Baby akan tayang di bioskop Indonesia pada 5 Maret 2017.

sumber : https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-the-boss-baby-bukan-kisah-bayi-biasa/
More about → Review Film: The Boss Baby, Bukan Kisah Bayi Biasa

Review Film: Serunya Nostalgia Masa Kecil di Film Power Rangers

Diposting oleh Unknown

Review Film: Serunya Nostalgia Masa Kecil di Film Power Rangers

“Power Rangers were a legion of warriors. You must become those warriors.”, begitulah kira-kira kalimat yang dilontarkan Zordon ketika lima remaja penuh rasa ingin tahu bertemu dengannya. Film reboot Power Rangers versi Saban Brands dan Lionsgate ini tampil menghibur bagi para penggemarnya pada bulan Maret tahun ini. Film Power Rangers disutradarai oleh Dean Israelite yang punya track record memuaskan lewat film Project Almanac (2015). Power Rangers juga diramaikan dengan aktor dan aktris muda yang masih tergolong baru seperti Dacre Montgomery, Naomi Scott, RJ Cyler, Ludi Lin, dan penyanyi cantik, Becky G.
Trini, Billy, Jason, Kimberly, dan Zack menemukan koin ajaib di sebuah tambang.
Kisahnya dimulai layaknya film The Breakfast Club (1985) dimana Jason (Dacre Montgomery) yang bermasalah harus masuk kelas tambahan hari Sabtu. Pertimbangan yang logis karena dengan begitu ia bertemu dengan Kimberly (Naomi Scott) dan Billy (RJ Cyler) yang memiliki masalahnya masing-masing. Billy yang sedikit memiliki kelainan pada otaknya mengajak Jason ke tambang dekat kota dengan imbalan melepaskan alat pada kaki Jason. Seperti halnya film pencarian superhero pada umumnya, Jason dan Billy kemudian dipertemukan dengan Kimberly, Zack, dan Trini dengan kejadian tebing ajaib.
Memasuki babak kedua dari filmnya, lima anak muda tersebut bertemu dengan Alpha 5 dan Zordon di bawah tanah dari tebing tambang. Kata-kata tentang Power Rangers akhirnya mulai disebutkan pada bagian ini, berbarengan dengan munculnya musuh masa lalu Zordon, Rita Repulsa. Jason, Billy, Kimberly, Trini, dan Zack mulai berlatih bersama Alpha 5, bukan demi menjadi Power Rangers, namun karena penasaran ingin mencoba bajunya. Semakin sering mereka berlatih bersama, semakin terjalin rasa saling peduli di antara mereka. Hingga akhirnya Zordon meresmikan mereka untuk menjadi Power Rangers pilihan semesta.
Film Power Rangers produksi Saban Brands dan Lionsgate.
Keseruan serial televisi Mighty Morphin Power Rangers era 90-an disajikan secara rapi oleh Dean Israelite dalam versi filmnya. Ia dapat membagi tiap babak dalam ceritanya secara terstruktur dan logis, dilengkapi dengan dialog komedi yang pas. Beberapa adegan terasa memorable seperti Jason menampar musuhnya dan Megazord (gabungan lima Zord) yang jatuh ketika pertama kali dikendalikan oleh kelima Rangers. Menonton para Rangers beraksi dalam film ini seakan bernostalgia dengan memori masa kecil yang penuh dengan imajinasi.

Isu kesetaraan ras dan gender
Ada hal menarik yang ditampilkan oleh film Power Rangers kali ini dimana isu tentang kesetaraan mungkin sengaja diselipkan sang pembuat film. Masalah ras yang lebih dahulu ditampilkan yaitu pada dialog Zack dan Billy ketika melihat kilauan warna dari koin ajaib mereka di bawah air. Memang pada serial televisinya terdahulu juga pernah terjadi kontroversi tentang warna Rangers yang stereotip pada Ranger Hitam dan Ranger Kuning.
Muatan tentang kesetaraan gender juga diangkat ketika menonton film ini. Hal tersebut tersirat dalam karakter Trini pada bagian pemaparan latar belakang lima Rangers. Jika memang betul para pembuat filmnya memiliki tujuan kesetaraan, maka hal tersebut sesuai dengan isu rasisme dan LGBT yang panas dalam beberapa tahun terakhir.
Becky G. sebagai karakter Trini yang cukup kontroversial dalam film Power Rangers.
Sangat disayangkan Power Rangers movie masih kurang intens dalam menampilkan bagian latihan dan melawan pasangan Rita Repulsa-Goldar. Akan lebih seru jika kita dibawa lebih lama melihat kerja keras mereka menjadi Power Rangers. Namun, penonton tetap akan tersenyum kegirangan ketika lagu “Go Go Power Rangers!” muncul pada adegan para Zord masing-masing Rangers yang berlari kencang.
Film Power Rangers sangat direkomendasikan untuk kamu yang tidak pernah absen menonton serial televisinya. Obat rindu yang dibuat secara maksimal bagi kamu yang kangen dengan keseruan menonton aksi Power Rangers melawan para monster. Power Rangers tayang serentak 22 Maret 2017 di bioskop-bioskop Indonesia. 

sumber : https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-serunya-nostalgia-masa-kecil-di-film-power-rangers/


More about → Review Film: Serunya Nostalgia Masa Kecil di Film Power Rangers

Review film The Mummy

Diposting oleh Unknown

Film "The Mummy" merupakan film Hollywood reboot The Mummy yang akan disutradarai oleh Alex Kurtzman dan Jon Spaihts sebagai penulis skenario.

Film The Mummy akan dibintangi oleh Tom Cruise, Sofia Boutella, Annabelle Wallis dan Jake Johnson dan akan digarap oleh rumah produksi Universal Pictures yang rencananya akan tayang pada 9 Juni 2017 (USA).




Sinopsis Film The Mummy (2017)

Film "The Mummy" ini akan menceritakan seorang tentara navy Seal yaitu Tyler Colt (Tom Cruise), dalam misinya untuk menemukan sekelompok teroris bersembunyi disebuah bunker yang berada di sebuah gurun di irak.

Saat menemukan dan memasuki bunker tersebut, Tyler dan timnya menemukan para teroris tewas di dalamnya. Setelah memasuki bunker Tyler dan timnya juga menemukan beberapa kekuatan misitis di luar kendali mereka.

Mereka menyadari bahwa bunker adalah sebuah makam tua yang berusia ratusan tahun. Kekacauan terjadi ketika semua anggota Navi Seal mulai menyalahkan satu sama lain dan mereka mulai tertarik dengan kekuatan yang di dalam makam tersebut.

Tyler adalah satu-satunya yang diharapkan untuk menemukan sebuah sarkofagus dari besi berwarna hitam di dalam makam tersebut. Dengan simbol Mesir seperti Ankh dan Eye of Horus. Tyler kemudian dipercayakan oleh pasukan untuk membuka sarkofagus tersebut dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.


Tapi setelah menempatkan tangannya diatas sarkofagus itu, Tyler segera ditikam dengan simbol berbentuk bintang, sejak saat itu pikiran Tyler dikutuk dengan visi dari Ashurbanipal raja Asyur The mummy.

Riview Film The Mummy (2017)

Universal Pictures menyebutkan bahwa film terbaru ini merupakan sebuah kisah petualangan, aksi dengan elemen horor berikut karakter-karakter baru. Menghadirkan elemen karakter dari Drakula, Frankenstein, The invisible Man, the Bride of Frankenstein dan pemburu vampire Van Helsing. Dalam film ini Jake Johnson akan berperan dalam keanggotaan militer.

Berada pada setting film dunia modern, Tom Cruise berperan sebagai seorang tentara khusus bersama Sofia Boutella yang berperan sebagai seorang ilmuwan. Dalam situasi ini, dunia menantikan kehadiran seorang legenda setelah cukup lama menderita atas kejatuhan manusia.

Saksikan penayangannya langsung hanya dibioskop kesayangan anda pada 9 Juni 2017 mendatang.

Detail Film The Mummy (2017)

Judul : The Mummy
Genre : Action, Adventure, Fantasy
Sutradara : Alex Kurtzman
Penulis Skenario : John Spaihts
Produksi : K/O Paper Products, Sean Daniel Company, Universal Pictures
Bahasa : Inggris
Negara : USA
Tanggal Rilis : 9 Juni 2017 (USA)
Pemain :
Tom Cruise
Sofia Boutella
Annabelle Walls
Jake Johnson
Marwan Kenzari


sumber : http://www.pusatsinopsis.com/2016/06/the-mummy-2017.html
More about → Review film The Mummy

Review Ghost in the Shell – Film Aksi Lumayan dengan Efek Visual Menakjubkan

Diposting oleh Unknown

Review Ghost in the Shell – Film Aksi Lumayan dengan Efek Visual Menakjubkan


Review Ghost in the Shell
Image credits: Paramount Pictures International

Plot film ini mungkin tidak menawarkan hal baru, tapi harus diakui efek visualnya luar biasa. Lengkapnya baca saja review Ghost in the Shell ini!

Sinopsis

Mira Killian adalah korban dari serangan teroris. Tubuhnya rusak parah, jadi ia diselamatkan oleh Hanka Robotics dengan prosedur baru. Otaknya dimasukkan ke tubuh sibernetika sintetis yang membuatnya melampaui manusia biasa.
Mira kemudian ditempatkan di Section 9, satu unit pasukan khusus, di mana tubuh supernya membuat ia menjadi prajurit yang bisa diandalkan. Ancaman baru datang saat seorang hacker berbahaya mulai menyerang dan menghabisi para eksekutif Hanka Robotics. Mampukah sang mayor mengatasi masalah ini?

Efek Visual Luar Biasa

trailer ghost in the shell
Hal pertama yang akan penulis angkat dalam review Ghost in the Shell ini adalah efek visualnya. Apa kamu suka dengan genre cyberpunk? Atau jangan-jangan kamu memang butuh inspirasi untuk menghasilkan karya-karya berlatar futuristis? Kalau begitu, efek visual Ghost in the Shell bisa menjadi alasan kuat untuk menyaksikan film ini.
Efek visual Ghost in the Shell benar-benar luar biasa. Kamu akan melihat dunia yang terkesan kelam namun juga menakjubkan, dengan berbagai perkembangan canggih yang belum ada di bumi namun bisa dibayangkan benar-benar tercipta di masa depan.
Visual top ini juga membantu filmnya menyajikan adegan-adegan aksi menakjubkan. Beberapa di antaranya terasa diadaptasi dengan sangat canggih dari animasi aslinya.
Visual Ghost in the Shell juga mampu membuat film ini terasa unik dan beda dari film Hollywood lain. Dan itu hal yang bagus, mengingat film ini tidak menawarkan hal baru dari segi plot.

Plot Biasa Saja


Kelemahan filmnya yang paling terpikir saat menulis review Ghost in the Shell adalah kualitas plotnya. Sutradara Rupert Sanders berusaha menyajikan plot baru yang tetap memiliki unsur-unsur dari animasinya, terutama versi 1995 lampau. Namun pada akhirnya plot dari Ghost in the Shell yang sudah dimodifikasi ini terasa tidak istimewa. Twist-twist yang tersaji di film ini tak terasa baru, dan mungkin akan tertebak dengan mudah oleh fan-fan film aksi.
Meski begitu, film ini tetap bisa mengangkat unsur-unsur bagus di dalam kisahnya. Seperti bahaya yang bisa terjadi saat implan sibernetika sudah sangat awam dimiliki oleh manusia. Seperti yang bisa kamu temui di animasinya, cukup seram membayangkan implan sibernetik seseorang bisa dibajak dan dikendalikan oleh seorang hacker.

Penulis Naskah dan Sutradara Cukup Memahami Inspirasi Filmnya

Sumber: Ivv2.com
Masalah dari adaptasi game dan anime ke layar Hollywood adalah kemungkinan sutradara dan penulis naskah tidak benar-benar memahami sumbernya. Akhirnya terciptalah karya-karya berkualitas mengerikan seperti film-film Uwe Boll.
Sudah menonton Ghost in the Shell: Stand Alone Complex dan Ghost in the Shell 1995, penulis merasa kalau sutradara Rupert Sanders dan tim kreatif di balik film ini cukup memahami materi dasar filmnya. Karenanya, Ghost in the Shell terasa sebagai adaptasi yang oke.
Ada tiga karakter Section 9 yang disorot intensif di film ini: Mayor Mira Killian, Batou, dan Aramaki.
Aramaki yang bijaksana dan peduli kepada anggota Section 9 terasa benar-benar diangkat dari animasinya, dan dibawakan dengan apik oleh si raja Benteng Takeshi, Beat Takeshi.
Lalu ada juga Batou. Pilou Asbaek menyajikan karakter yang sangat mirip dengan Batou asli di animasinya. Mulai dari kecintaannya terhadap anjing serta hubungan akrabnya dengan Mayor Mira, yang tidak pernah keluar dari friendzone.
Di antara Batou dan Aramaki, Mayor Mira yang dibawakan Scarlett Johansson justru terasa sebagai karakter baru. Baru satu tahun bekerja di Section 9, Mayor Mira yang didasarkan dari Motoko Kusanagi tampil sebagai karakter yang masih beradaptasi dengan tubuh barunya. Dia masih sering melakukan kesalahan, tidak yakin pada dirinya sendiri, dan kurang dekat dengan anak buahnya.

Bukti lain dari pemahaman sutradara dan tim kreatif film ini adalah banyaknya adegan dari seri Ghost in the Shell yang disajikan di sini. Bukan hanya dari film 1995, yang jelas jadi inspirasi, tapi juga dari seri seperti Ghost in the Shell: Stand Alone Complex. Ghost in the Shell mungkin memiliki kelemahan, tapi dari segi adaptasi Hollywood sih film ini cukup oke.

Kesimpulan

Untuk kesimpulan dari review Ghost in the Shell ini: plot filmnya terasa terlalu biasa, dengan twist yang awam untuk ukuran film aksi sci-fi Hollywood. Namun efek visualnya memukau, penokohan karakternya cukup asyik, dan – secara tidak terduga – sebenarnya ini adaptasi yang lumayan oke untuk Ghost in the Shell.
Menurut IGN, Ghost in the Shell mendapat pemasukan sedikit di pekan pertamanya di box office Amerika. Sangat disayangkan sebenarnya. Setelah ending film ini, penulis justru penasaran apa yang akan terjadi bila film ini dilanjutkan.


REVIEW OVERVIEW
Skor Film
75 %
More about → Review Ghost in the Shell – Film Aksi Lumayan dengan Efek Visual Menakjubkan

Review film I.T. Indonesia : Mubadzir pemain

Diposting oleh Unknown

Review film I.T. Indonesia : Mubadzir pemain

Kenapa saya bilang film ini mubadzir pemain, karena film ini dibintangi oleh aktor aktor yang sudah terkenal. Namun isi dari film ini yang kurang berbobot. Saya juga kurang suka mengenai alur ceritanya. Menurut saya itu terlalu sempit atau bahkan mungkin harusnya bisa lebih luas lagi lingkup yang terlibat.
Kemudian satu hal lagi yang saya tidak suka dari film ini adalah diskriminasi terhadap pemain wanita. Meskipun itu tidak secara langsung tapi apa yang saya tangkap adalah hal itu. Entah mengapa saya tidak menyukai dengan film-film yang melakukan kekerasan terhadap wanita misalkan penganiayaan, pemerkosaan dan lain-lain. Dalam hal ini film tersebut seolah menggambarkan pemerkosaan terhadap pemain wanita meskipun tidak dijelaskan secara jelas dan secara detail namun tersirat dan penonton akan mengarah ke hal itu.
review film i.t
Menurut saya film ini memiliki kelebihan di bagian cerita. Sesungguhnya film ini ingin membawakan pesan yang sangat besar sekali untuk para pemirsanya. Mungkin itu akan berarti bagi mereka yang menyukai film-film dengan cerita yang dalam. Bagi saya yang lebih menyukai film-film yang memiliki kemewahan dalam grafis dan adegan fim I.T kurang begitu nampol.
 , film ini kurang mengisi hati dan bisa dibilang Saya sedikit kurang puas meskipun saya orang IT, tapi harusnya film ini bisa lebih mewah lagi.
Grafis 
No Comment
Cerita
Mike Regan sebagai pemilik perusahaan teknologi yang akan meluncurkan satu buah aplikasi terhebatnya memiliki kendala dalam hal teknis. Yang akhirnya seorang teknisi membantu dan menyelesaikan masalah yang saat itu sedang dihadapi.
sebagai seorang yang buta teknologi meskipun dia adalah Bos teknologi dia merasa tergantung dengan sang teknisi tersebut sehingga dia mengajak teknisi tersebut untuk melihat-lihat server perusahaan dan juga melihat rumah pintar. Server adalah hal paling vital dalam dunia it. Secara tidak sadar Mike telah mempercayakan seluruh aset perusahaan dan termasuk rumahnya kepada sang teknisi. Tanpa diketahui bahwa teknisi tersebut memiliki riwayat yang buruk tidak lebih 8 bulan bekerja banyak perusahaan.
Sadar bahwa kehadiran teknisi semakin jauh ke dalam keluarganya maka Mike bertindak keras dan memecat teknisi dari kerjasama yang telah dijalin.
Mike tidak tahu satu tradisi bahwa hal yang paling ditakuti oleh orang Jepang di perusahaannya adalah teknisi IT. Namun hal ini tidak disadari oleh Mike dia membuat marah sang teknisi dan saat itulah mulai kehancuran demi kehancuran Mike.
Teror demi error Mike dapatkan hingga pada akhirnya ending yang tidak menarik menurut saya.
Detail 
Director: John Moore
Writers: Dan Kay (story by), Dan Kay (screenplay)
Stars: Pierce Brosnan, Jason Barry, Karen Moskow
Cast
Pierce Brosnan … Mike Regan
Jason Barry … Patrick
Brian F. Mulvey … George (as Brian Mulvey)
Martin Hindy … Joey (as Martin ‘Mako’ Hindy)
Rico Hizon … Rico Hizon
Anna Friel … Rose Regan
Stefanie Scott … Kaitlyn Regan
  sumber : http://khedisfile.com/2016/10/05/review-film-i-t-indonesia-mubadzir-pemain/ 
More about → Review film I.T. Indonesia : Mubadzir pemain

Review Film: Comeback Para Monster di Film Kong: Skull Island

Diposting oleh Unknown on Jumat, 14 April 2017

Review Film: Comeback Para Monster di Film Kong: Skull Island

Banyak kejutan baru yang hadir di bulan Maret 2017. Salah satunya lewat hadirnya film Hollywood terbaru berjudul Kong: Skull Island. Cerita ringan, CGI fantastis, dibalut dengan aksi laga menegangkan dijamin akan membuatmu jatuh hati dengan film berformat live action ini. Apalagi melihat jajaran pemainnya yang tidak kalah keren seperti Tom Hiddleston, Brie Larson, Samuel L. Jackson, Toby Kebbel, dan masih banyak lagi.
Kong: Skull Island akan membawa kita menyaksikan serunya perjalanan ekspedisi sebuah tim. Berawal dari rencana Bill Randa (John Goodman) yang memiliki misi terpendam untuk menemukan potensi di pulau antah berantah di kawasan Pasifik. Ia lalu mengajak anak buahnya dan sekawanan tentara yang dipimpin oleh Preston Packard (Samuel L. Jackson). Agar lebih melancarkan misinya, ia mengajak James Conrad (Tom Hiddleston), seorang mantan tentara yang telah dibebas tugaskan. Selain itu ia juga mengajak Mason Weaver (Brie Larson), seorang jurnalis fotografer dengan harapan dapat mempublikasikan penemuan ajaibnya.
John C. Reilly berperan sebagai Hank Marlow, tentara Amerika Serikat yang terjebak di Skull Island selama 28 tahun lamanya.
Sayang rencana Bill Randa harus berakhir pahit. Setibanya di pulau, tim ini malah disambut oleh kemarahan seekor makhluk raksasa bernama Kong. Kemarahannya membuat helikopter yang ditunggangi mereka luluh lantak. Tak hanya itu, Kong juga membunuh anak buah Packard dengan membabi-buta. Kebencian Packard akhirnya membuatnya berambisi untuk membunuh Kong, apapun yang terjadi!
Kebrutalan Kong juga membuat tim terpecah belah. Mereka pun saling melakukan pencarian demi menemukan jalan pulang. Berawal dari sinilah petualangan dimulai.
Comebacknya film monster
Salah satu penampakan monster di film Kong: Skull Island.
Di awal film penonton diajak untuk melihat kebengisan Kong sebagai makhluk raksasa yang super jahat. Kong menyerang membabi-buta dengan siapa pun makhluk yang ditemuinya. Eits, tapi jangan beropini terlalu dini ya. Film ini punya twist yang tak terduga. Selain itu pulau antah-berantah itu ternyata juga dihuni oleh makhluk-makhluk raksasa yang tak kalah menyeramkannya dari Kong.
Selama 2 jam film berjalan, kita akan disuguhi oleh adegan-adegan yang sukses membuat jantung berdegup. Sapuan akting memikat dari para pemainnya dipadu dengan efek CGI yang canggih membuat Kong: Skull Island patut menjadi pilihan film yang sayang untuk dilewatkan. Meski bukan yang terbaik, namun film ini mampu memberikan hiburan tersendiri bagi kamu yang kangen dengan film-film petualangan bertemakan monster.
Brie Larson berperan sebagai Mason Weaver, seorang jurnalis fotografer yang diajak untuk melakukan ekspedisi.

sumber : https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-comeback-para-monster-di-film-kong-skull-island/
More about → Review Film: Comeback Para Monster di Film Kong: Skull Island

Review Film Logan: Super Sadis, Akhir yang Dramatis

Diposting oleh Unknown

Review Film Logan: Super Sadis, Akhir yang Dramatis

logan poster
Plot dari franchise X-Men dan Origin Wolverine mungkin sedikit membingungkan. Terutama karena setting waktu yang mepunyai alur maju mundur. Untuk film solo Wolverine sendiri bagi saya belum pernah menjadi sangat berkesan, kecuali setelah di instalment terbarunya sekaligus terkahir kali ini yaitu Logan. Film ini benar-benar menjadi klimaks dan membuat penonton terperangah, berdecak kagum, bahkan berakhir dengan haru.
Review Logan
Film ini mengambil latar belakang waktu di tahun 2029, dengan Logan terlihat jauh lebih tua dan payah.  Kondisi mutan tua ternyata juga mirip dengan kondisi manusia normal saat menua. Penyakitan dan tak punya gairah. Lebih parah lagi karena Logan menghabiskan waktunya untuk mabuk-maukan, sembari ia masih merawat profesor Xavier yang sudah renta. Kemampuannya untuk pulih juga tidak sehebat dulu,yang juga sedikit menimbulkan pertanyaan di benak penonton. Karena katanya Logan terkenda virus.
Setelah sebelumnya diceritakan di film X-Men Apocalypse, proyek Transigen yang dilakukan oleh perusahaan Essex untuk menghadirkan mutan baru sebagai senjata mematikan. Kini kekacauan akhirnya benar-benar muncul dan kembali menghantui kehidupan Logan. Muncul seorang anak bernama Laura, yang memiliki kemampuan yang sama dengan Logan, yaitu mengeluarkan cakar adamantium. Dan tentu saja, tim poryek Transigen harus memburu para mutan karena masih disebut sebagai ‘produk gagal’ mereka.
Review Logan 5
Pertarungan Logan atau Wolverine kini jauh lebih beringas dari semua film kemunculannya. Cakar dengan material adamantium ini ditampilkan lebih banyak dalam mengoyak ‘daging’ lawannya. Bahkan bisa dibilang, ini menjadi film bertema superhero yang paling sadis yang pernah kami saksikan. Saya agak ragu apakah film ini bisa dinikmati oleh semua penonton karena fight scene yang terlalu gory.
Review Logan 4
Tapi sutradara James Mangold cukup pandai memainkan emosi penonton. Ia membawa banyak dramatisasi dari adegan-adegan yang mengundang amarah, bagaiamana kekejian para pemburu mutan memperlakukan para mutan seperti binatang. Sehingga, penonton bisa ikut merasakan kemarahan Wolverine yang dengan membabi buta menghajar musuh tanpa ampun saat bertarung. Mungkin ini yang bisa menjadi alasan kenapa adegan bersimbah darah tetap bisa nyaman disaksikan oleh sebagian penonton.
Review Logan 3
Walau disisi lain agak kontroversial karena pemeran Laura Kinney (X23) sendiri masih sangat belia yaitu berusia 11 tahun, harus memainkan aksi yang bisa dibilang lebih pantas di mainkan oleh orang dewasa atau minimal karakter remaja. Tapi secara akting tidak ada yang kurang dari peran Dafne Keen saat berhadapan dengan kamera. Talenta muda ini juga cukup luwes dalam berdialog berbahasa latin dan Inggris, dan juga bahkan untuk aksi laga yang terbilang ekstrim.
Di film ini penonton juga semakin merasakan kedekatan antara Prof Xavier dan Wolverine layaknya seorang ayah dan anak. Memang, kurang lebih sudah 17 tahun, aktor Hugh Jackman dan Patrick Stewart memerankan kedua tokoh sentral di franchise X-Men tersebut, tapi di kali ini keduanya terlihat lebih berinteraksi erat dan penuh drama.
Review Logan 6
Film Logan mungkin juga sukses mengubah stigma penonton akan superhero dari yang pernah kita saksikan sebelumnya dimana konflik datang, lalu superhero mengatur strategi perang dan menang. Di film ini, penonton akan lebih merasakan petualangan panjang yang putus asa tanpa akhir yang benar-benar jelas.
Cerita panjang Logan ditampilkan durasi 2 jam 17 menit, biasanya akan hanya anda dapatkan di film-film nominasi Oscar. Atau mungkin film ini memang sudah lebih dievolusikan untuk menampilkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Bukan hanya kesan brutal dan kesan dark dari pertarungan yang dihadirkan, tapi plot cerita yang ditampilkan dengan sangat dramatis berhasil menyentuh simpati penonton. Bagi saya sendiri saat menyaksikan film Logan, mungkin ini jadi seperti sebuah franchise X-Men yang bercampur dengan konsep cerita film Mad Max,OldBoy, hingga,Terminator.
Review Logan 2
Beda dari film-film superhero yang saat ini ada, baik dari DC maupun Marvel, saat menonton film Logan anda seolah bukan lagi menyaksikan film super hero. Film ini tak sekedar seru atau terkesan fun dengan efek visualisasi yang megah, bahkan jauh dari konsep kostum memukau.
Bagi anda yang tidak menyaksikan beberapa sekuel franchise X-Men dan Origin Wolverine sebelumnya, sebenarnya tidak begitu masalah. Karena aksi laganya yang sangat memacu adrenaline pun sudah cukup memukau. Anda tetap bisa menikmati film yang satu ini sebagai sebuah cerita terpisah. Tapi pastinya anda akan lebih banyak mengetahui seluk beluk para mutan dan latar belakang cerita masing-masing jika telah menyaksikan seluruh sekuel film X-Men.
Logan mulai tayang hari ini, 1 Maret 2017 di bioskop-bioskop tanah air.
Video Trailer:
Tanggal rilis: 1 Maret 2017
Durasi: 2 Jam 17 Menit
Rating: Dewasa
Sutradara: James Mangold
Pemain: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen,Boyd Hodbrook, Stephan Merchant & Richard E Grant.
Studio: Marvel Entertainment, 20th Century Fox,

sumber : http://www.jagatreview.com/2017/03/review-film-logan-super-sadis-akhir-yang-dramatis/
More about → Review Film Logan: Super Sadis, Akhir yang Dramatis

Diposting oleh Unknown

Review Beauty and the Beast – Jatuh Cinta Lagi pada Emma Watson

 

Beauty and the Beast Review

Sudah cukup banyak animasi klasik milik Disney yang telah dibuat ulang ke dalam versi live-action. Namun, Beauty and the Beast merupakan yang paling -dan sangat- dekat dengan aslinya. Mereka pun berhasil membuat momen yang sama menjadi lebih luar biasa.

Melalui proyek-proyek remake animasi mereka, yang beberapa melibatkan seorang putri, Disney terlihat ingin mengambil sisi lain dari kisah-kisah yang pernah mereka tuturkan. Malevicent contohnya, Disney mengambil tokoh antagonis di Sleeping Beauty tersebut sebagai tokoh sentral. Akibatnya, nada dari film tersebut pun otomatis lebih gelap.
Ambil lagi Snow White and the Huntsman, yang sepertinya cukup mengambil jarak dengan versi asli animasinya. Tak ada nyanyi dan tari-tarian di sana, diganti dengan adanya adegan peperangan yang lumayan epik.
Beauty and the Beast tak mendapatkan perlakuan demikian. Disney mengambil penuh apa yang ada di versi animasinya, ditambah dengan bumbu-bumbu lagu serta adegan baru, dan jadilah! Secara umum tak ada plot yang berbeda dan lagu-lagunya sangat familier (bahkan untuk saya yang hanya sekali menonton versi animasinya). Ya, betul. Disney seperti menerjemahkan versi animasi secara gamblang ke dalam live-action.
Tapi hasilnya luar biasa. Setiap lagu, setiap adegan, terasa dua kali lebih megah, lebih indah. Belle, sang personifikasi kecantikan yang terpancar dari kecerdasan, mampu dicerminkan oleh sosok Emma Watson. Tentu peran Emma sebagai Hermione Granger di seri Harry Potter sangat membantu citra itu, tanpa mengesampingkan kecerdasan sang aktris, yang memang berprestasi akademik.
Gaston, sang antagonis, bagi saya adalah bintang dari Beauty and the Beast versi terbaru ini. Luke Evans dengan tangkas memerankan penjahat macho yang berambisi menikahi Belle, dengan performanya di setiap koreografi lagu begitu memukau. Aksi Gaston dan LeFou ketika bernyanyi sangat sangat berhasil menghibur saya.

Akting Terbatas dari Emma Watson

Beauty and the Beast Review
Walaupun mampu menghadirkan aura Belle yang cerdas, Beauty and the Beast terasa belum memaksimalkan kemampuan akting dari Emma Watson. Di luar adegan menyanyi dan menari ala Disney, Emma terlihat oke. Namun, performanya dalam adegan musikal menurut saya kurang maksimal (tapi suaranya bagus kok). Mungkin saja karena dibayangi oleh performa fenomenal Luke Evans.
Cerita dan karakter Belle sendiri sebenarnya memang kurang memberi ruang bagi Emma. Karakternya cuma senyum penuh arti dan menjadi wanita kuat, yang sudah menjadi bagian dari diri Emma sendiri di kehidupan nyata. Saya merasa karakter-karakter pendukung seperti Lumiere dan Clogsworth malah lebih menonjol walaupun mereka hadir dalam bentuk CGI. Tak heran sih, karena yang memerankan mereka adalah aktor sekelas Ewan McGregor dan Ian McKellen.

Begitu juga dengan sang Beast, yang sampai kredit bergulir tak sempat saya dengar nama aslinya*. Dua sejoli Belle dan Beast memang menjadi sentral cerita, tapi para karakter pendukungnya lah yang membuat film ini begitu megah.
Walaupun begitu, interaksi antara Belle dan Beast tetap mampu menyentuh hati (dan gelak tawa). Emma Watson, yang tak pernah terlihat bertambah usia, mampu meluluhkan kembali hati saya sejak ia menjadi penyihir di Harry Potter. Memang aktingnya tidak luar biasa, tapi saya tak bisa memikirkan aktris mana lagi yang lebih cocok memerankan Belle.
More about →

Review Film: Hacksaw Ridge, Sajian Menjanjikan dari Kembalinya Mel Gibson

Diposting oleh Unknown on Senin, 27 Maret 2017

Review Film: Hacksaw Ridge, Sajian Menjanjikan dari Kembalinya Mel Gibson

Apa film terakhir Mel Gibson yang kamu tonton? Eits, bukan film yang dibintanginya lho, tepatnya film yang disutradarai oleh aktor kawakan ini. It’s true, setelah 10 tahun absen berkarya, Mel Gibson kembali dengan film arahan terbarunya yang berjudul Hacksaw Ridge. Film bergenre war-drama ini menandai kebangkitan Gibson yang dulu pernah dikenal sebagai salah satu aktor, sutradara, sekaligus produser termahal di Hollywood.
Hacksaw Ridge mengangkat cerita klasik tentang seorang pahlawan perang di Amerika. Filmnya pun mengambil ide cerita yang tak biasa, yaitu seputar perjalanan hidup seorang tentara yang menolak untuk mengangkat senjata. Nah loh, apa jadinya coba jika seorang tentara nggak mau pegang senjata. Lalu bagaimana ya cara dia melawan musuhnya?
It’s not a common, but absolutely it’s a fact! Film Hacksaw Ridge diadaptasi dari kisah nyata seorang tentara Amerika bernama Desmond Doss di masa Perang Dunia II. Berbeda dengan tentara militer pada umumnya, sejak basic militer di kamp-nya, Desmond (Andrew Garfield) dengan tegas menolak mengangkat senjata. Tak hanya itu, Desmond juga menolak untuk bekerja di hari Sabtu karena menurut keyakinannya, hari Sabtu adalah hari yang sakral untuk beribadah. Keyakinan itulah yang membuat Desmond dikucilkan dan dibully rekan-rekan satu kamp-nya. Ia juga dianggap sebagai pembangkang hingga terancam hukuman penjara.
hacksaw-ridge-3
Singkat cerita, setelah melewati perjuangan panjang dan cukup pelik terbebaslah Desmond dari jerat hukum. Ia pun dapat bernapas lega karena pihak militer mengabulkan permintaannya untuk bertugas di divisi paramedis. Bidang ini adalah bidang yang sejak awal diincar Desmond saat pertama kali mendaftar menjadi tentara.
Desmond Doss terus dipandang sebelah mata, apalagi ditambah dengan postur tubuhnya yang kecil dan tak berisi. Banyak orang menilai ia tidak akan banyak berguna di medan perang. Namun siapa sangka, tugas Desmond sebagai tentara paramedis ternyata mengukir sejarah baru dalam perjalanan military di Amerika Serikat. Pria asal Virginia itu menjadi satu-satunya paramedis yang berhasil mendapatkan penghargaan tertinggi “Medal of Honour” dari pemerintah Amerika Serikat. Desmond dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menyelamatkan nyawa puluhan tentara yang bertugas di medan perang. Wow!

Gebrakan Baru Andrew Garfield
review-film-hacksaw-ridge-kembalinya-mel-gibson
Tidak berlebihan rasanya jika menyebut Andrew Garfield bermain dengan begitu apik. Tak lagi kental dengan image Spiderman, perannya sebagai Desmond Doss seakan mematahkan image Garfield yang selama ini dikenal dengan peran-peran amannya. Mantan kekasih Emma Stone ini tampil memukau saat memainkan perannya sebagai tentara cupu yang memiliki keteguhan hati nan kuat. Saat melihat Garfield di film ini kita seolah diajak untuk memutar waktu dan melihat the real Desmond Doss di masa mudanya. Muda, lugu, dan cupu dengan gaya bicaranya yang khas.
Sebagai seorang sutradara, Mel Gibson terbukti sukses menyajikan adegan drama dan perang yang memilukan hati. Menelan biaya produksi sebesar Rp 523 miliar, Gibson mampu memvisualisasikan dengan baik betapa kejamnya pertumpahan darah di masa Perang Dunia II. Adegan-adegannya pun terasa sangat real yang terlihat dalam scene-scene fighting, baku tembak, dan ledakan bom menggelegar yang mampu membawa suasana mencekam.
Selain Andrew Garfield, film Hacksaw Ridge juga dibintangi oleh nama-nama yang menjanjikan seperti Teresa Palmer, Sam Worthington, Hugo Weaving, dan Vince Vaughn yang ditarik untuk melepaskan image di film-film drama komedinya.

Kembalinya Mel Gibson
hacksaw-ridge-1
Seakan bernasib sama dengan Andrew Garfield, film Hacksaw Ridge menjadi debut kembalinya kedua aktor tampan ini. Bedanya Garfield berperan sebagai pemain, sementara Gibson memainkan perannya sebagai sutradara. Seperti diketahui nama Garfield seakan tenggelam setelah tidak lagi terlibat dalam project film Spiderman, sementara Gibson yang mampu bangkit dari masa-masa kelam akibat ulahnya menghina kaum Yahudi. Kejadian tersebut sempat gempar dan merusak nama serta karier besarnya di Hollywood.
And now, it’s time to move on. Film Hacksaw Ridge menjadi momen kebangkitan Gibson setelah 1 dekade absen tidak menelurkan karya baru. Meski pada awalnya sempat diragukan, namun film produksi Summit Entertainment ini mendapatkan kebanggaan berupa standing ovation selama 10 menit saat pemutarannya di ajang film bergengsi, Venice Film Festival 2016. Berbeda dengan festival-festival film lainnya, standing ovation yang cukup lama jelas bukanlah hal yang awam terjadi di festival film tertua di dunia tersebut.
Yap, dengan track record-nya yang menjanjikan, bisa jadi film Hacksaw Ridge mampu mengantarkan Mel Gibson kembali meraih Piala Oscar. Seperti diketahui aktor dan sutradara asal Australia ini terbukti pernah berjaya membawa film garapannya, Braveheart, melenggang di Academy Awards 1996. Film yang juga dibintanginya itu berhasil menembus 10 nominasi Oscar dan mengantarkannya membawa pulang Piala Oscar dengan gelar Sutradara Terbaik. So damn wow!
sumber : https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-hacksaw-ridge-sajian-menjanjikan-dari-kembalinya-mel-gibson/

More about → Review Film: Hacksaw Ridge, Sajian Menjanjikan dari Kembalinya Mel Gibson